(0287) 472 433 rektorat@unimugo.ac.id

STIMUGO SELENGGARAKAN ZOOMINAR GRATIS BAGI NAKES

Nakes/Perawat merupakan kelompok yang rentan terpapar covid-19 karena bukan hanya merawat pasien tetapi juga dituntut untuk mampu mencegah penularan pada dirinya sendiri. Munculnya stigma penolakan terhadap nakes yang merawat pasien covid-19 oleh masyarakat maka timbul banyak masalah psikologis seperti cemas, takut bahkan panik yang dialami oleh para nakes.

Melihat banyaknya masalah psikologis yang dialami para nakes, STIKES Muhammadiyah Gombong bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Komisariat PPNI STIKES Muhammadiyah Gombong mengadakan Zoominar Daily Edisi Pertama secara gratis untuk para rekan sejawat perawat pada Sabtu, 9 Mei 2020 pukul 14.00 WIB dengan tema “Penguatan Ketahanan Jiwa, Psikososial dan Spiritual untuk Tenaga Kesehatan” dengan jumlah peserta 90 orang baik dari dalam maupun luar Kabupaten Kebumen.

Kegiatan Zoominar kali ini dimoderatori oleh Irmawan Andri Nugroho, M.Kep., Ns. selaku dosen Prodi Keperawatan Program Sarjana dan menghadirkan 2 (dua) narasumber yaitu Ike Mardiati Agustin, M.Kep.,Sp.Kep.J . selaku Ketua Departemen Keilmuan Keperawatan Jiwa dan Wakil Ketua Tim Psikososial BPBD Kab. Kebumen yang membahas bagaimana dukungan ketanahan jiwa dan psikososial bagi nakes dalam menghadapi covid-19 serta Sarwono, SKM., M.Kes. selaku dosen sekaligus Wakil Ketua III STIKES Muhammadiyah Gombong yang menyampaikan penguatan aspek spiritualitas nakes.

Bambang Utoyo, M.Kep., Ns.,  Ketua DPK PPNI Komisariat STIKES Muhammadiyah Gombong menyampaikan materi yang disampaikan pada zoominar daily edisi pertama bertujuan untuk membantu menguatkan tenaga medis baik yang terjun langsung menangani pasien covid-19 secara psikologis maupun secara spiritual. “Hal ini dirasa penting mengingat situasi sekarang banyak stigma negatif terhadap tenaga medis”, ujarnya.

Pada kesempatannya, Ike Mardiati juga menyampaikan materi konsep kesehatan jiwa covid-19, bentuk dukungan jiwa dan psikososial dan manajemen ketahanan jiwa dan psikososial yang disampaikan sudah sesuai dengan anjuran WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, Herniyatun, M.Kep., Sp.Mat. mengapresiasi kegiatan zoominar yang dilaksanakan oleh DPK PPNI Komisariat STIKES dan berharap akan ada banyak kegiatan positif seperti zoominar ini dengan materi yang lebih beragam.

Sehat Jiwa Saat Ramadhan di Tengah Pandemi Covid 19

Indonesia bahkan Dunia saat ini sedang berada dalam masa berduka akibat adanya Pandemi Covid 19. Pandemi ini merupakan bencana non alam. WHO (2020) Telah menyatakan bahwa pandemic covid 19 ini dapat meningkatkan stres pada seluruh lapisan masyarakat. Kondisi stres dan masalah psikologis lainnya yang akan berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang.

Beberapa respon psikologis yang dapat muncul dikaitkan dengan pandemic ini antara lain adanya rasa takut akan kematian, adanya klasifikasi tentang status penderita covid yaitu ODP, PDP, OTG dan Terkonfirmasi Covid, ketakutan akan tertular, adanya kepanikan akibat informasi yang simpang siur beredar luas, kepanikan akan langkanya alat pelindung diri (APD), adanya kebijakan tentang pembatasan social berskala besar, stress karena keterbatasan aktifitas ibadah, perubahan ritme dalam aktivitas bekerja sejalan dengan munculnya kebijakan WFH (Work From Home), perubahan proses sekolah (Windarwati, Dwi Heni. 2020), dengan kondisi-kondisi tersebut diperlukan upaya untuk tetap menjaga psikologis kita agar senantiasa sehat jiwa apalagi dikaitkan saat ini kita berada di bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan istimewa yang dinantikan seluruh umat muslim di dunia, berbagai kegiatan ibadah dan tradisi keagamaan yang khas sebagai syiar Ramadhan muncul di bulan ini, akan tetapi Ramadhan tahun 1443 H/2020 Masehi ini sangat jauh berbeda dengan adanya pandemic covid 19, sejalan dengan Adanya kebijakan social and physical distancing (pembatasan jarak fisik dan sosial) yang membatasi kegiatan-kegiatan yang mengundang berkumpulnya banyak orang. Perbedaan yang dirasakan ini dapat menambah daftar pemicu munculnya masalah Kesehatan psikologis masyarakat selain pandemic yang masih ada. Namun demikian perlu kita renungkan bersama bahwa pembatasan kegiatan syiar Ramadhan dalam keramaian tidak berarti menghentikan ghirah Ramadhan kita.

Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga diri kita sehat jiwa saat Ramadhan di tengah corona ini, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia telah merumuskan pedoman yang dapat di jadikan acuan bagi masyarakat untuk tetap menjaga diri sehat jiwa sehingga imunitas kita semakin meningkat dan pada akhirnya akan terhindar dari corona, beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan imunitas Kesehatan jiwa saat Ramadhan antara lain:

  1. Emosi positif dengan cara selama Ramadhan di rumah dengan melakukan kegiatan dan hobby yang disukai baik sendiri maupun Bersama keluarga.
  2. Pikiran positif :Selama Ramadhan jauhkan dari informasi hoax, bicara pada diri sendiri tantang hal positif dan selalu yakin bahwa pandemic akan
  3. Hubungan sosial yang positif :member pujian, saling menguatkan antar sesama, saling menguatkan ikatan emosi antar keluarga, hindari diskusi yang negative dan saling menjaga silaturahmi antara rekan kerja, teman atau seprofesi
  4. Secara rutin tetap beribadah di rumah (Suasana berpuasa dirumah akan memberikan banyak waktu untuk memperbanyak bacaan Al-Quran zikir, shalat sunnat, dan semakin dekat dengan keluarga, berbagi takjil, bersedekah kepada orang yang berkekurangan, terutama yang terdampak Covid-19 ini.

Demikian hal-hal yang dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua untuk senantiasa sehat jiwa selama Ramadhan, semoga pandemic ini segera berakhir .Aamiin.

 

(Sumber )

Inter Agency Standing Committee (IASC). 2020. Catatan Tentang Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah Covid-19 Versi 01.

Windarwati, Dwi Heni. 2020. Panduan Praktis Rapid Respon dan penanganan diri aspek psikososial tarhadap covid 19. Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia Provinsi Jawa Timur

Kementrian Kesehatan RI, 2020. Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid 19. Jakarta

Keliat, Budi Anna,dkk. 2020. Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid 19. Jakarta. IkatanPerawat Kesehatan Jiwa Indonesia

Saenong. F.Faried, Zuhri, Saefudin. Dkk. 2020. Fikih Pandemi Beribadah di Masa Wabah. Nuo Publishing. Jakarta

 

Mahasiswa S1 Keperawatan Raih Prestasi Kancah Nasional

Dalam situasi pandemik covid-19 yang melanda negara Indonesia, sebagian besar masyarakat dituntut untuk melakukan social distancing dan physical distancing guna memutus rantai penyebaran virus corona. Tidak hanya kalangan pekerja, mahasiswa pun mendapat himbauan dari kampus untuk menerapkan sistem kuliah daring/online dari rumah masing-masing. Namun demikian, kondisi tersebut ternyata tidak mematahkan semangat mahasiswa STIKES Muhammadiyah Gombong dalam melakukan kegiatan yang positif bahkan sampai berhasil meraih prestasi yang membanggakan.

Muh. Agung Prayoga, mahasiswa Prodi Keperawatan Program Sarjana berhasil meraih juara 2 dalam Kompetisi Penulisan Opini Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020. Pengumuman pemenang disampaikan oleh Pusat Prestasi Nasional dalam Surat Keputusan Nomor 0176/J3/KP/2020 pada Sabtu, 2 Mei 2020.

Tema opini yang diangkat oleh mahasiswa kelahiran Purworejo, 12 April 1997 ini bejudul “Pemaksimalan Posko Darurat Psikologis sebagai Newmodel Perbaikan Psikologis di Tengah Pandemi Covid-19”. Muncul ide tema tersebut berangkat dari maraknya stigma negatif terhadap tenaga medis dan masyarakat yang tertular virus corona, dimana perlu adanya interaksi solutif untuk mengurangi kecemasan pada korban. Juara pertama kategori ini dimenangkan oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara, sedangkan juara ketiga diraih oleh mahasiswa Universitas Kediri.

Agung berpesan kepada para mahasiswa yang lain untuk bisa membagi waktu dan memaksimalkan peluang. Di tengah situasi pandemik ini, banyak hal positif yang bisa dilakukan. “Perjuangan menangkal virus bukan hanya dalam dalam aplikasi menjadi relawan, tetapi penyebaran berita positif dan mengabarkan hal baik kepada semua orang juga dapat membantu meningkatkan imunitas” tambah Agung dalam keterangan resminya.

Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, Hj. Herniyatun, M.Kep., Sp.Mat. sangat mengapresiasi pencapaian ini dan memotivasi agar mahasiswanya terus mengukir prestasi dan menjadi yang terbaik. “Kami berharap dalam situasi seperti ini (pandemik covid-19) para mahasiswa selalu produktiv dalam hal kebaikan, dan raihlah prestasi setinggi-tingginya”, ujarnya.

Kegiatan kompetisi ini merupakan upaya  dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan mengisi produktivitas bagi mahasiswa pada masa pandemik covid-19.

 

(SRY/2020)

Puasa dalam Kepungan Corona

Marhaban Ya Ramadhan. Bulan Ramadhan identik dengan bulan ibadah, berlomba meraih pahala sebanyak-banyaknya melalui ibadah puasa, tarawih, zakat, dan ibadah lainnya. Namun ada yang berbeda dengan bulan Ramadhan tahun ini. Momen ritual sebulan penuh yang biasa disambut dengan semarak, tahun ini akan penuh dengan keterbatasan.

Beberapa masjid telah ditutup semenjak merebaknya wabah virus Corona dan adanya himbauan pemerintah untuk membatasi kegiatan dalam skala besar. Berbagai pembatasan itu dilakukan dalam rangka untuk mencegah penularan lebih luas lagi dari virus ini. Pada Ramadhan kali tentu saja akan sangat jarang ditemui kegiatan beramai-ramai di masjid di saat tarawih, buka bersama, atau barangkali sekadar ke pasar sore. Sebagai umat Islam kita meyakini bahwa semua ini adalah skenario Allah.

Allah sedang mengingatkan kita akan kuasanya. Di awal penyebaran virus Corona di Wuhan, ilmuwan belum dapat memastikan detail cara virus ini menular dari binatang ke tubuh manusia. Selain itu, Allah belum mengizinkan produksi vaksin tersebut secara massal karena masih harus menjalani tahap uji klinis.

Virus corona atau yang disebut covid-19 atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, seperti pneumonia, distres pernafasan, hingga kematian. Walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini menyerang semua usia dari anak-anak, dewasa hingga ibu hamil dan menyusui. Setidaknya lebih dari 110 negara dengan ratusan ribu kasus positif covid-19. Lalu, bagaimanakah puasa kita di tengah pandemi ini?

Seperti yang kita ketahui bahwa puasa adalah ibadah wajib kecuali bagi beberapa orang yang memiliki udzur untuk tidak menjalankan puasa. Berpuasa adalah ketaakwaan, melatih menahan hawa nafsu, merasakan sedikit lapar seperti halnya saudara kita lainnya yang sering merasakan lapar karna kekurangan. Puasa mengajarkan kita saleh secara individu dan saleh secara sosial. Bonus dari menjalankan ibadah puasa itu sendiri adalah sehat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada sebagian nabi dari bani Israil: Kabarkanlah kepada kaummu, tiada seorang hamba yang berpuasa sehari kecuali mengharapkan ridha-Ku maka Aku sehatkan tubuhnya dan Aku besarkan pahalanya.” (HR. Baihaqi)

Manfaat Puasa dari Segi Kesehatan

Sesuai dengan sabda Rasul tersebut, beberapa manfaat puasa dipandang dari segi kesehatan, di antaranya adalah pembebasan tubuh dari lemak bertumpuk yang menjadi sumber penyakit. Maka, lapar merupakan cara terbaik untuk mengatasi kegemukan tersebut. Selanjutnya puasa juga bermanfaat untuk membuang kotoran dan racun tubuh yang merusak. Proses detoksikasi ini akan membantu menyegarkan tubuh setelah sekian lamanya menumpuk racun dalam tubuh.

Diketahui bahwa puasa memiliki pengaruh positif terhadap banyak penyakit, di antaranya penyakit maag, tekanan darah tinggi, stress maupun depresi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka yang berpuasa sebulan sekali memiliki risiko 58 persen lebih rendah terkena penyakit jantung, dibandingkan mereka yang tidak menjalani puasa. Karena itu puasa mempunyai dampak positif yang mengagumkan dalam menjaga kesehatan.

Sebaliknya puasa dapat melemahkan tubuh dan membahayakan kesehatan jika tidak dilakukan dengan tepat. Seperti misalnya kebiasaan tidur setelah sahur, di mana pada saat sahur inilah hormon kortisol tubuh sedang meningkat dan stimulus simpatis sedang optimal. Seseorang yang tidur setelah sahur, maka terjadi penumpukan hormon di dalam tubuhnya yang justru mengganggu proses metabolisme, sehingga ketika bangun tidur akan terasa pusing dan pegal di sekujur tubuh.

Kebiasaan kurang baik lainnya adalah mengkonsumsi air manis saat berbuka. Pada saat puasa tubuh akan mengalami dehidrasi dan hipoglikemia, maka tidak dianjurkan mengkonsumsi gula (karbohidrat simpleks) secara mendadak. Anjuran berbuka adalah dengan mengkonsumsi kurma, atau jika tidak ditemukan kurma, dianjurkan untuk minum air putih. Kurma dianjurkan oleh Rasulullah karena kandungan kurma adalah karbohidrat kompleks sehingga tidak akan mengganggu profil gula darah dalam tubuh.

Jadikan ketaatan kita untuk tetap menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya tentunya dalam sikap waspada sesuai anjuran WHO maupun pemerintah. Kita tidak perlu takut berlebihan dalam keadaan saat ini yang dikatakan sedang dikepung virus corona. Yang harus kita tingkatkan adalah kewaspadaan dan ketaatan kita terhadap Allah dan ulil amri.

Ibadah adalah pilar Islam sepanjang tahun. Akan tetapi, di bulan Ramadhan ibadah dirasakan lebih istimewa. Sejatinya kita diberikan waktu lebih banyak untuk melaksanakan ibadah. Wabah virus pasti mengubah cara kita semua melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Saat menghadapi musibah ini, hendaklah kita tetaap bersabar, ridho, dan bersyukur atas semua kuasa Allah. Akan kita raih keberkahan dan kesehatan saat Ramadhan tahun ini. Insha Allah.

 

(Lutfia Uli Na’mah SST MKes, Dosen Prodi Diploma III Kebidanan Stikes Muhammadiyah Gombong)

STIKES Gombong Terjunkan 25 Mahasiswa Jadi Relawan di RS Darurat Covid-19

 

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhamadiyah Gombong terus ambil bagian dalam upaya penanganan pandemi Covid-19 di Kabupaten Kebumen. Salah satunya dengan menerjunkan 25 mahasiswa untuk menjadi relawan percepatan penanganan Covid-19.

Mahasiswa tingkat akhir dari berbagai program studi tersebut akan menjadi relawan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Kebumen. Serahterima relawan dilaksanakan oleh Ketua Stikes Muhammadiyah Gombong Hj Herniyatun SKep SpMat kepada Direktur Rumah Sakit Darurat drg Sri Purwitasari di Aula Dinas Kesehatan Kebumen, Sabtu (25/4).

Hadir Wakil Ketua IV Bidang Kerja Sama dan Hubungan Internasional Stikes Gombong, Sawiji SKep Ns MSc, didampingi dosen DIII Keperawatan Ike Mardiati Agustin MKep Sp KepJ dan sejumlah dosen Stikes Gombong. Hadir pula Sekretaris Dinas Kesehatan H Kusbiyantoro SKM MKes yang juga Humas Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kebumen.

Ketua Stikes Muhamadiyah Gombong Herniyatun menjelaskan, para mahasiswa yang menjadi relawan sebelumnya telah diseleksi mulai dari kompetensi maupun kesehatan. Mereka sudah mendapat izin orang tua sebagai tim relawan serta mendapat pembekalan mengenai protokol medis penanganan pasien Covid-19. Termasuk dibekali dengan penggunaan APD dan sistem operasional rumah sakit.

Para relawan akan membantu merawat pasien tanpa gejala klinis, PDP maupun ODP yang berada di Rumah Sakit Darurat. Tahap pertama delapan orang mahasiswa bertugas selama 14 hari dan bergantian dengan mahasiswa lainnya.

“Kemudian mahasiswa yang selesai bertugas  akan menjalani karantina selama 14 hari,” ujar Herniyatun, di sela-sela serahterima.

Selain sebagai bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat, imbuh dia, melalui program juga mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kapasitasnya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat.

Dikawal Dosen

Menurut Herniyatun, sebagai tim relawan penanganan Covid-19, akan menjadi pembelajaran kreatif dan bermanfaat bagi mahasiswa itu sendiri, masyarakat dan pemerintah. “Kami akan memberi apresiasi khusus untuk mereka sebagai tim relawan. Apapun yang mereka lakukan nanti sebagai manifestasi diri untuk kemanusiaan,” kata Herniyatun.

Herniyatun menambahkan, mahasiswa tidak dilepas sendiri. Ada dosen yang akan selalu mengawal, memantau mulai dari persiapan, proses hingga selesai. “Dosen kami akan terus mendampingi dan memonitor kesehatan fisik dan psikologis mahasiswa kami,” ujar Herniyatun.

Drg Sri Purwitasari bersyukur dan berterima kasih atas kepedulian Stikes Muhamadiyah Gombong dengan mengirimkan para mahasiswanya untuk membantu pemerintah dalam percepatan penanganan covid 19 di Kebumen.

“Kami bersyukur masih ada mahasiswa yang bersedia menjadi tim relawan penanganan covid 19 yang berisiko ini,” ucap drg Sri Purwitasari.

Seorang mahasiswi Program Profesi Nurse, Dwi Nurbaity yang tergabung dalam tim relawan mengaku siap secara lahir batin dan penuh keikhlasan untuk membantu menangani pasien Covid-19. Dia mengaku sudah mengetahui tugas tersebut cukup berisiko. Meskipun demikian dengan mematuhi standar operasional prosedur dia yakin akan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.

“Tentu selalu berdoa dan berikhtiar untuk kesembuhan pasien, itu yang kami harapkan,” ujar Dwi Nurbaity.

(SM,25/4)

Jangan Tolak Jenazah Covid-19, STIMUGO berikan edukasi ke masyarakat

Senin (13/4), STIKes Muhammadiyah Gombong bekerja sama dengan Pemerintah Desa Bejiruyung, Kec. Sempor kembali mengadakan kegiatan Diskusi Edukasi secara online. Materi yang dibahas kali ini berkaitan dengan kondisi yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat yaitu Perawatan Jenazah Pasien Covid-19.

Kegiatan diskusi online yang dilakukan di Balai Desa Bejiruyung, Kec. Sempor kali ini mendatangkan narasumber Bapak H. Sarwono, SKM., M.Kes., selaku dosen sekaligus Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan AIK STIKes Muhammadiyah Gombong dengan moderator Bapak Awal Hanifudin selaku relawan Gerakan Bejiruyung Bersedekah.

Wakil Ketua STIKes Muhammadiyah Gombong, H. Sarwono, SKM., M.Kes., menyampaikan keprihatinan terhadap fenomena saat ini dimana pasien positif covid-19 dan tenaga medis yang meninggal setelah merawat pasien positif covid-19 jenazahnya tidak diterima oleh masyarakat dan tidak diperbolehkan dimakamkan di pemakaman umum.

Kegiatan ini salah satu bentuk sosialisasi STIKES kepada masyarakat tentang penanganan jenazah pasien covid-19, agar masyarakat mendapat penjelasan bagaimana keamanan proses penanganan tersebut dan tidak terjadi lagi penolakan jenazah pasien covid-19.

Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa kondisi yang dilakukan oleh petugas kesehatan sudah aman, sesuai dengan prosedur kesehatan dan sesuai dengan prosedur keamanan. Semua proses penanganan jenazah pasien covid-19, petugas kesehatan menggunakan pakaian Alat Perlindungan Diri (APD) lengkap. Cairan tubuh jenazah covid-19 sudah terdisinfektan berulang kali dan ditutup dengan beberapa lapisan pembungkus oleh petugas, sehingga tidak akan ada penularan dari jenazah tersebut. “Dengan penanganan jenazah covid-19 yang sudah sesuai prosedur ini, maka masyarakat jangan takut lagi”, ujar Sarwono.

TERJUN UNTUK MENGABDI,STIMUGO BENTUK DESA SIAGA COVID-19

Corona virus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Gejala awal virus corona COVID-19 yang dirasakan para pasien adalah demam, batuk, pilek, gangguan pernapasan, sakit tenggorokan, letih, dan lesu. Lansia dan mereka yang memiliki riwayat gangguan kesehatan seperti diabetes, asma, atau penyakit jantung, memiliki resiko lebih tinggi, saat terinfeksi virus corona. Penularan virus ini yang berlangsung cepat dan mudah menyebabkan penyakit Covid 19 cepat menjadi wabah.

Indonesia tengah mengalami situasi dimana terjadi peningkatan jumlah pasien terinfeksi virus tersebut yang sangat cepat setiap harinya. Untuk memutus rantai penyebaran virus corona,  dibutuhkan peran serta masyarakat secara umum dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona. Langkah dari pemerintah adalah melakukan social distancing dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Dalam rangka mendukung program pemerintah, STIKES Muhammadiyah Gombong bekerja sama dengan Pemerintah Desa Bejiruyung, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen dan Puskesmas Sempor 1 melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan membentuk Desa Siaga Covid-19. Desa binaan tersebut memiliki agenda kegiatan antara lain membentuk relawan, penyaluran bantuan APD, memberikan edukasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan virus corona dan pencegahannya, skrinning arus keluar masuknya warga, tracking, serta pendampingan Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Kegiatan ini dimulai pada tanggal 30 Maret 2020 dan direncanakan akan selesai pada pertengahan April 2020. Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat STIKES Muhammadiyah Gombong, Bambang Utoyo, M,Kep. mengatakan “Desa Bejiruyung merupakan salah satu Desa Binaan STIKES Muhammadiyah Gombong,  sehingga kami bentuk menjadi Desa Siaga Covid-19”, ujarnya di sela-sela kegiatan.

Dalam kesempatan ini, Kepala Desa Bejiruyung, Sofingi, menyampaikan terimakasih dan apresiasi terhadap kegiatan Pembentukan Desa Siaga Covid-19 di wilayah yang ia pimpin. “Terimakasih kepada STIKES Muhammadiyah Gombong sudah berpartisipasi dalam program pemerintah” ucapnya.

Dukungan pemerintah Desa Bejiruyung terhadap kegiatan ini juga memanfaatkan media sosial berupa Live Streaming Facebook milik Kepala Desa dengan tujuan warga masyarakat tidak perlu bepergian dan keluar rumah tetapi tetap dapat mendapatkan edukasi yang disampaikan terkait virus corona tersebut dari rumah.

Berhasil ! Puluhan Unit Pelayanan Kesehatan di Kebumen terima APD dari STIMUGO

Civitas Akademika STIKES Muhammadiyah Gombong berhasil mendonasikan ratusan alat perlindungan diri (APD) untuk tenaga medis di puluhan unit pelayanan kesehatan se Kabupaten Kebumen dan sekitarnya.

Di bawah koordinasi salah satu tenaga pengajar Prodi Keperawatan Program Diploma III,  Nurlaila, M.Kep., kegiatan penyaluran bantuan ini  berlangsung sejak tanggal 1-15 April 2020 dan didistribusikan oleh beberapa karyawan lainnya.

Nurlaila mengatakan, donasi yang diberikan melalui STIKES Muhammadiyah Gombong itu terdiri dari 282 stel baju coverall/hazmat, 100 buah face shield, 24 box masker bedah, 4 box masker N95, 5 box sarung tangan bedah, dan 5 liter hand sanitizer standar rumah sakit. Tidak hanya itu, 400 lembar masker kain dan 200 buah hand sanitizer pun sudah terbagi untuk masyarakat sekitar khususnya bagi yang bekerja di luar rumah.

“Donasi disalurkan ke 22 unit pelayanan kesehatan di Kabupaten Kebumen dan sekitarnya” ujarnya di sela-sela pemberian APD ke Puskesmas Pejagoan, Kamis (16/4).

Aksi kemanusiaan di bidang kesehatan saat ini menjadi prioritas karena pandemi Covid-19 saat ini sudah menelan banyak korban dan kerugian. Penyaluran bantuan APD ini merupakan bukti dukungan STIKES Muhammadiyah Gombong kepada tenaga medis yang menangani langsung pandemi tersebut.

Translate »