(0287) 472 433 rektorat@unimugo.ac.id

Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat, KMP-TB dalam Program Penanggulangan TB

TUBERKULOSIS merupakan salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global SDG’s. Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberculosis. Selama lima tahun, 2014-2018 angka keberhasilan pengobatan (succes rate) dan angka kesembuhan TB Paru di Kabupaten Kebumen menunjukkan trend yang sama. Indikator angka keberhasilan dari tahun 2017 turun dari tahun sebelumnya yaitu 74,21%.

Penanggulangan TB diperlukan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangannya. Keberhasilan dalam penanggulanagan TBC di suatu wilayah tidak terlepas dari adanya peran masyarakat yang diupayakan melalui proses pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan TBC yaitu menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam memutus mata rantai penularan TBC.

Permasalahan penyakit TB merupakan permasalahan yang kompleks sehingga harus dipecahkan bersama, mulai dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan sebagai leading sector pada program ini, tokoh masyarakat sebagai reference dari masyarakat dan lintas sektor harus dilibatkan dalam penanggulangan Penyakit TB.

Proses penyembuhan penderita TB tidak hanya dipengaruhi ketersediaan obat dan pelayanan yang diberikan oleh petugas Puskesmas. Tetapi juga dipengaruhi oleh keberdayaan ekonomi, asupan gizi, hambatan sosial dan kultural yang ada di masyarakat serta kemampuan dalam mengakses pelayanan kesehatan.

Hal ini sejalan dengan arahan dari Kementerian Kesehatan yang telah mengubah strategi penemuan pasien TB tidak hanya “secara pasif dengan aktif promotif” tetapi juga melalui “penemuan aktif secara intensif dan masif berbasis keluarga dan masyarakat“ serta melalui pemberdayaan masyarakat secara optimal, dengan tetap memperhatikan dan mempertahankan layanan yang bermutu sesuai standar.

Pengabdian Masyarakat

Pelibatan kader dalam program penanggulangan TB merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui kegiatan menginformasikan, mempengaruhi dan membantu masyarakat agar berperan aktif dalam penemuan dan pendampingan pasien TB.

Peran aktif kader ini akan dapat dipenuhi dengan membekali kader kesehatan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Pengetahuan dan keterampilan tersebut salah satunya dapat diperoleh melalui pelatihan atau penyuluhan penemuan dan pendampingan pasien TB bagi kader kesehatan.

Upaya pencapaian target penemuan kasus TBC sangat ditentukan oleh dukungan seluruh jajaran lintas sektor dan peran serta seluruh lapisan masyarakat termasuk organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, kalangan swasta, dan dunia usaha. Penemuan kasus yang tinggi disertai tatalaksana kasus yang baik akan menjamin Eliminasi TBC tahun 2030 dapat tercapai.

Stikes Muhammadiyah Gombong, melalu tri dharma perguruan tingginya yaitu Pengabdian Masyarakat mencoba mengimplemetasikan pemberdayaan masyarakat melalui pengaktifan kembali Kelompok Masyarakat Peduli TB (KMP-TB) di Kecamatan Puring-Kebumen yang terdiri dari kader, toga, toma, dan masyarakat mantan penderita.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengaktifkan kembali peran KMP-TB melalui kegiatan-kegiatan pelatihan, focus group discussion, dan bakti sosial pembagian PMT kepada masyarakat berisiko TB. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diakhiri dengan rapat evaluasi bersama dengan unit kerja pemangku kepentingan seperti kecamatan, puskesmas, desa serta anggota KMP-TB Puring agar setelah kegiatan ini Peran KMP-TB dapat maksimal bersinergis dengan program pemerintah dalam menanggulangi TB.


Ns Isma Yuniar MKep, Dosen Stikes Muhammadiyah Gombong

Sumber : https://suaramerdekakedu.id/pentingnya-pemberdayaan-masyarakat-kmp-tb-dalam-program-penanggulangan-tb/

Digelar Virtual, Wisuda STIKES Muhammadiyah Gombong Diwakili Lima Lulusan Terbaik

Salah satu lulusan terbaik STIKES Muhammadiyah Gombong mendapatkan kehormatan diwisuda secara langsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wisuda merupakan puncak dari kebanggaan seorang mahasiswa setelah menempuh pendidikan di kampus. Namun di era pandemi Covid-19, para mahasiswa tidak bisa meluapkan kebahagiaanya dengan mengikuti prosesi wisuda.

Foto bersama ibu, bapak dan keluarga besar dengan latar belakang gedung kampus serta teman-teman seangkatan pun hanya tinggal angan-angan. Seperti dialami oleh para lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Gombong yang harus ikhlas mengikuti wisuda dari rumah masing-masing.

Halaman kampus STIKES Muhammadiyah Gombong yang biasanya penuh dengan keluarga wisudawan saat pelaksanaan wisuda, juga tampak begitu sepi. Tidak ada penjual jasa foto dadakan, termasuk mahasiswa yang menjadi penjual bunga. Hanya terpajang sejumlah karangan bunga dari perbankan di halaman depan kampus.

Ya, Sidang Terbuka Senat STIKES Muhammadiyah Gombong dengan agenda tunggal Wisuda XXXI, Pelantikan dan Angkat Sumpah Profesi Ners digelar secara virtual. Dari 563 lulusan, hanya tampak lima orang yang mendapatkan kehormatan mengikuti wisuda di auditorium kampus.

Wisudawan dan wisudawati tersebut merupakan lulusan terbaik di masing-masing Program Studi (Prodi) yakni Prodi DIII Kebidanan Nuri Zakiyah Amd Keb (IPK 3,81), Prodi DIII Keperawatan Muh Bahrul Huda Amd Kep (IPK 4.00).
Prodi Keperawatan Sarjana Reg A Aisya Oktaviani W SKep (IPK 3,88), Prodi Keperawatan Sarjana Reg B Taufiq Hidayat SKep (IPK 3,60). Prodi Farmasi Program Sarjana Sugeng Supriyanto S Farm (IPK 3,94), dan Program Pendidikan Profesi Ners Afton Feriadi SKep Ns (IPK 4,00).

Selain mendapatkan kehormatan diwisuda secara langsung, para lulusan terbaik juga mendapatkan penghargaan berupa uang Rp 1 juta dari Bank Jateng Cabang Kebumen. Dalam kesempatan itu juga dilaksanakan pelantikan dan angkat sumpah profesi ners dan bidan.

7.098 Alumni

Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong Dr Hj Herniyatun MKep SpMat menjelaskan, sejak wisuda pertama tahun 1997, STIKES Muhammadiyah Gombong telah meluluskan 7.098 alumni yang tersebar di rumah sakit ataupun layanan kesehatan baik dalam dan luar negeri.

Tahun ini, sebelum diwisuda 17 alumni sudah diterima bekerja di beberapa apotek di Kebumen, tiga alumni diterima Praktik Bidan Mandiri di wilayah Kebumen. Dua alumni diterima di RSU Wijayakusuma, dua alumni diterima di Klinik Dokter wilayah Gombong. Satu alumni bekerja di RS PKU Muhammadiyah Gombong, satu alumnus diterima di RS Purwogondo dan dua alumni diterima di salah satu SMK di Banyumas.

“Untuk menunjang karir kerja alumni, sebelum terjun di dunia kerja kami juga telah membekali soft skill dan kemampuan kerja alumni,” ujarnya.

Pihaknya menyampaikan terima kasih karena terus dipercaya masyarakat dalam pendidikan tinggi. Tahun akademik 2020/2020 ini, jumlah mahasiswa STIKES Muhammadiyah Gombong adalah 1.337 dengan jumlah mahasiswa baru 575 orang.

Ke depan STIKES Muhammadiyah Gombong akan bergabung dengan STTM Kebumen dan akan berubah bentuk menjadi Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO). “Kami mohon doanya agar diberikan kemudahan dalam proses perubahan bentuk tersebut,” imbuh Herniyatun.

(SM/Anto)

STIKES Muhammadiyah Gombong Siap Buka Prodi Ilmu Hukum dan Manajemen

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Gombong saat ini sedang melakukan persiapan perubahan status dari sekolah tinggi menjadi universitas.

Selain menambah Program Studi (Prodi) Teknik Industri hasil merger dengan Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah (STTM) Kebumen, kampus ini akan membuka Prodi S1 Ilmu Hukum dan S1 Manajemen.

“Untuk Prodi S1 Kebidanan dan Profesi sudah dilaksanakan visitasi secara online. Saat ini menunggu rekomendasi dari LLDIKTI untuk diterbitkan surat keputusan,” kata Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong Dr Hj Herniyatun MKep Sp Mat didampingi Wakil Ketua IV Bidang Kerjasama dan Hubungan Internasional Sawiji MSc usai membuka Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan Baitul Arqom.

Pada tahun depan pihaknya sudah menerima mahasiswa baru untuk program studi tersebut. Sehingga total terdapat lima Prodi Program Sarjana yakni S1 Keperawatan, S1 Kebidanan, S1 Farmasi, Teknik Industri, Ilmu Hukum dan Manajemen. Sementara penambahan sejumlah Prodi baru lainnya seperti Pariwisata, Bisnis Digital, Administrasi Rumah Sakit dan Informasi Medik masih dalam proses.

“Semua persyaratan untuk menjadi universitas terpenuhi termasuk luas tanah 36.000 m2 sudah mencukup dari yang disyaratkan 10.000 m2,” ujarnya.

Sementara itu, tahun pelajaran 2020-2021, STIKES Gombong berhasil menjaring 398 mahasiswa baru. Para mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan Baitul Arqom secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

Selama empat hari, dalam kegiatan yang dibuka oleh Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong Dr Herniyatun para mahasiswa baru mendapatkan berbagai materi dari para narasumber. Para mahasiswa dikenalkan dengan sistem perguruan tinggi di Indonesia yang disampaikan Dr M Samsudin MPd. Kemudian pembinaan gerakan nasional revolusi mental oleh Dr Azzam Syukur Rahmatullah MSI.

Para mahasiswa juga diberikan pembinaan kesadaran bela negara dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang disampaikan dari Kodim 0709 Kebumen. Selain itu, para mahasiswa dibekali cara cerdas bermedia sosial dan pencegahan radikalisme dengan menghadirkan narasumber dari Polres Kebumen.

Dituntut Berkreasi

Para mahasiswa baru juga dikenalkan dengan layanan kemahasiswan. Materi ideologi Muhammadiyah disampaikan oleh Mintaraga Eman Surya Lc MA. Sedangkan faham agama dalam Muhammadiyah oleh Prof Dr H Suparman Syukur MA dan mengenal Muqodimah Anggaran Dasar Muhammadiyah oleh Ketua PD Muhammadiyah Kebumen KH Abduh Hisyam.

Sedangkan materi belajar di era 4.0 dengan new normal oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jateng Prof Dr DYP Sugiharto. Dalam pengenalan kampus ini, menghadirkan bintang tamu ustadzah Oki Setiana Dewi yang menyampaikan caracter building dengan tema Kader milenial yang arif, kreatif, inovatif dan berakhlakul karimah.

Direktur RS PKU Muhammadiyah Gombong dr Ibnu Nasher Arrohimi menyampaikan profil kader Muhammadiyah. Sedangkan Dr Ibnu Hasan memaparkan nilai perjuangan tokoh Muhammadiyah. Kemudian dr Hasan Bayuni memaparkan kesadaran lingkungan hidup dan kesiapsiagaan bencana di perguruan tinggi.

Ketua Panitia PKKMB STIKES Muhammadiyah Gombong Irmawan Andri Nugroho MKep menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan proses belajar dan suasana akademik di STIKES Muhammadiyah Gombong. Harapannya mahasiswa saat bergabung sudah siap belajar dan paham fasilitas apa saja yang dimiliki oleh kampus.

“Pengenalan kampus secara online untuk pertama kali menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana penyelenggara dituntut berkreasi dan berinovasi agar bisa mengemas kegiatan agar tetap berkesan kepada para mahasiswa baru,” ujar Irmawan Andri Nugroho.

Dosen Prodi S1 Keperawatan ini menyebutkan pihaknya memanfaatkan berbagai platform digital seperti Zoom Meeting, streaming Youtube dan WhatsApp hingga media sosial yang lain. Bahkan saat ini kampus ini membangun studio mini khusus untuk kegiatan-kegiatan online. “Tim IT kami juga menyiapkan sejumlah materi mulai video perkenalan,” ujarnya.

(SM-Anto)

Diabetes dan Orang Jawa

Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah, Diabetes menempati urutan kedua terbanyak penyakit tidak menular setelah Hipertensi. Diabetes dapat menimbulkan komplikasi lanjutan seperti Penyakit Jantung, Stroke, dan Gagal Ginjal, sehingga pencegahan dan penanganan Diabetes menjadi salah satu prioritas utama bidang kesehatan. Banyak opini menyebutkan bahwa kuliner Jawa yang didominasi oleh rasa manis ikut andil menjadi salah satu faktor meningkatkan kejadian Diabetes di Jawa Tengah.

Sejarah yang telah dirangkum dari berbagai sumber menyebutkan bahwa cita rasa manis pada kuliner Jawa mempunyai kisah yang panjang sejak jaman VOC. Untuk mengatasi masalah keuangan setelah menghadapi Perang Diponegoro, VOC menerapkan kebijakan tanam paksa tanaman tebu di lahan pertanian di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai komoditi ekspor yang menguntungkan. Tebu membutuhkan iklim yang sesuai dan irigasi yang baik sehingga cocok untuk ditanam di lahan persawahan di daerah Jawa.

Pada pertengahan abad ke-18 Jawa menjadi pemasok gula terbesar setelah Cuba. Sebagai dampaknya, padi sebagai tanaman pangan utama menjadi mahal dan langka karena makin sedikitnya lahan yang digunakan untuk menanam padi. Untuk mensiasati kelangkaan padi maka masyarakat Jawa terbiasa mengkonsumsi air tebu untuk bertahan hidup. Seiring waktu rasa manis sudah menjadi bagian dari budaya Jawa yang mewarnai hampir sebagian besar kuliner Jawa sampai sekarang.

Apakah konsumsi makanan atau minuman manis serta merta akan menyebabkan Diabetes pada orang Jawa? Tubuh kita membutuhkan gula sebagai sumber energi untuk mencegah agar tubuh kita tidak lemas dan mood tetap terjaga. Menurut Kemenkes asupan gula yang baik adalah 50 gram (5-9 sendok teh) perharinya. Konsumsi gula perlu dibatasi karena gula merupakan salah satu jenis karbohidrat yang dapat meningkatkan kadar gula darah dan meningkatkan berat badan apabila tidak diimbangi dengan aktivitas dan olahraga yang mememadai.

Perubahan Gaya Hidup
Pada jaman tanam paksa masyarakat Jawa tidak banyak yang menderita Diabetes karena makanan dan minuman serba gula yang mereka konsumsi terbakar kalorinya dengan aktivitas kerja paksa di kebun tebu dan pabrik gula. Berbeda dengan gaya hidup sekarang ini dimana konsumsi makanan dan minuman manis tidak dibarengi dengan aktivitas dan olahraga, adanya mesin yang memudahkan pekerjaan, berbagai moda transportasi, banyak pekerjaan dilakukan dengan banyak duduk di balik meja, di depan TV, komputer, atau handphone.

Hal ini mengakibatkan timbunan lemak dan obesitas atau kelebihan berat badan. Akibatnya, tubuh membutuhkan lebih banyak hormon insulin untuk metabolisme, dan apabila tidak diimbangi dengan produksi insulin oleh pankreas yang tidak mencukupi dapat memicu terjadinya Diabetes.

Selain itu, obesitas juga mengakibatkan sel tubuh menjadi tidak sensitif terhadap insulin. Padahal tanpa insulin glukosa hasil pencernaan tubuh tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel tidak bisa melakukan proses metabolisme. Glukosa yang tidak dapat masuk ke dalam sel akan menumpuk di pembuluh darah sehingga menyebabkan kadar gula meningkat dan terjadilah Diabetes. Perubahan gaya hidup inilah yang harus diwaspadai. Gaya hidup sehat dan seimbang adalah kunci untuk mencegah terus meningkatnya Diabetes di Jawa Tengah yang masyarakat selalu menambahkan gula dalam masakan dan minumannya.


Cahyu Septiwi MKep SpKep MB PhD – Staf Pengajar di STIKES Muhammadiyah Gombong

 

 

 

 

Pandemi Covid-19, STIKES Muhammadiyah Gombong Gelar Job Fair dan Baitul Arqam Secara Daring

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Gombong menggelar Job Fair dan Baitul Arqam (JFBA) Purna Studi, Kamis-Sabtu 27-29 Agustus 2020.

Jika tahun-tahun sebelumnya, para peserta yakni calon alumi menginap di kampus selama kegiatan, pada JFBA tahun 2020 ini peserta melaksanakan seluruh kegiatan dari tempat tinggal masing-masing. Kegiatan yang dibuka oleh Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong Dr Hj Herniyatun MKep SpMat digelar secara daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting.

Hadirkan Ustadz “Cinta” Restu Sugiarto

Selama tiga hari, peserta yang terdiri atas 110 Profesi Ners, 80 D3, 26 Bidan dan 58 Farmasi mendapatkan materi dari para narasumber.  Pada kegiatan kali ini menghadirkan narasumber kondang seperti selebriti Youtube sekaligus motivator Sherly Anafita RS MSi Ph dan ustadz kondang yaitu Ustadz “Cinta” Restu Sugiarto.

Pada hari pertama peserta menerima materi matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang disampaikan Ketua PD Muhammadiyah Kebumen KH Abduh Hisyam SAg. Dilanjutkan materi Ketua PW Muhammadiyah Jateng M Tafsir MAg tuntunan ibadah sesuai tarjih. Ustadz “Cinta” Restu Sugiarto menyampaikan materi Ibadah Mahdhah dan Nawafil.

Materi Etos Kerja Muhammadiyah disampaikan oleh dr Yusuf Bahtiar. Ustadz Mintaraga LC MA memberikan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah dalam menjalankan profesi. Kemudian materi profil kader dan perjuangan tokoh Muhammadiyah disampaikan oleh Direktur RS PKU Muhammadiyah Sruweng dr Hasan Bayuni.

Pada hari kedua, kegiatan diisi dengan presentasi dari sejumlah rumah sakit seperti RS PKU Muhammadiyah Gombong, RS PKU Muhammadiyah Sruweng. Hadir pula RS Permata Medika Kebumen, RS Sari Asih Ciputat, PT Bahana Inspirasi Muda, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, RS Puri Asih, RSU Purbowangi.

Pada hari ketiga, sejumlah perusahaan turut presentasi meliputi LPK Mitra Sarana Sejahtera, LPK Bahana Inspirasi Muda. Kemudian K24, PT Sidomuncul, BP2MI juga dari organisai profesi seperti PPNI, IBI, IAI/PAFI. Adapun motivator Sherly Anafita RS MSi Ph memberikan motivasi dan tips melamar pekerjaan di masa pandemi.

Ketua Panitia JFBA Purna Studi Putra Agina Widyaswara Suwaryo‬ MKep menjelaskan bahwa JFBA Purna Studi merupakan kegiatan rutin tahunan bagi calon alumni Stikes Muhammadiyah Gombong. Job fair berisi informasi seputar pekerjaan yang bisa menambah referensi bagi alumni sesuai dengan minat dan cita-cita.

“Sedangkan Baitul Arqam Purna Studi merupakan bekal untuk calon alumni agar senantiasa berpijak pada jalan yang lurus, jalan yang senantiasa diridhoi oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW,” ujar Putra Agina.

Dosen Prodi S1 Keperawatan tersebut menambahkan, kegiatan dilaksanakan melalui daring sesuai dengan arahan dan kebijakan, baik dari Kemendikbud maupun dari PP Muhammadiyah terkait kegiatan akademik yang boleh dilakukan selama pandemi.

Pada tahun ini perbedaan lain adalah kegiatan diikuti oleh calon lulusan angkatan I Program Studi Farmasi. Biasanya JFBA diikuti calon alumni Prodi Keperawatan dan Kebidanan, kali ini bertambah.

“Semoga tahun berikutnya semakin bertambah prodi-prodi yang lain. Mengingat tidak lama lagi STIKES Muhammadiyah Gombong akan berubah bentuk menjadi Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO),” ujarnya.

Menurut Putra, salah satu indikator keberhasilan JFBA adalah diterimanya alumni di tempat kerja yang dilihat dalam 1, 3, 6 sampai 12 bulan setelah lulus. JFBA kali ini bisa dikatakan berhasil, karena kegiatan baru akan dimulai, sudah ada calon alumni yang akan mengikuti seleksi tes pekerjaan.

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) STIKES Muhammadiyah Gombong dr H Fatah Widodo SpM MKes mengucapkan terima kasih kepada Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong Dr Herniyatun MKep SpMat yang tetap melaksanakan kegiatan tersebut walaupun dalam suasana pandemi Covid-19.

Dokter Fatah Widodo memberikan apresiasi kepada panitia yang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan secara daring dengan lancar dan diikuti dengan baik serta antusias oleh seluruh peserta.

“Diharapkan para peserta setelah mengikuti baitul arqam memiliki bekal yang cukup untuk memasuki dunia kerja dan berkiprah di tengah masyarakat. Sekaligus menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa,” ujar Fatah Widodo dalam sambutannya saat menutup acara Job Fair dan Baitul Arqam.

(SM)

Translate »