by Humas Unimugo | Nov 9, 2020 | Berita Terkini
Seorang bidan yang membuka praktik mandiri dapat disebut juga sebagai wirausahawan. Sebagai pelaku usaha mandiri dalam bentuk layanan jasa kesehatan dituntut untuk mengetahui dengan baik manajemen usaha. Bidan sebagai pelaku usaha mandiri dapat berhasil baik dituntut untuk mampu sebagai manajerial dan pelaksana usaha, di dukung pula kemampuan menyusun perencanaan Lutfia Uli Na’mah, S.ST., M.Kes.berdasarkan visi yang diimplementasikan secara strategis dan mempunyai ke mampuan personal selling yang baik guna meraih sukses. Diharapkan bidan nantinya mampu memberikan pelayanan kesehatan sesuai profesi dan mampu mengelola manajemen pelayanan secara profesional, serta mempunyai jiwa entrepreneur.
STIKES Muhammadiyah Gombong sebagai salah satu institusi pendidikan di bidang kesehatan yang memiliki program studi kebidanan pada Sabtu, 7 November 2020 menyelenggarakan Webinar Nasional Be a Midwife-Preneur dengan tema Strategi Pengembangan Pelayanan Kebidanan untuk Meningkatkan Berwirausaha. Webinar kali ini mengundang narasumber ahli di bidangnya masing-masing.
Kegiatan webinar yang diikuti oleh lebih kurang 300 peserta ini dibuka oleh Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, Dr. Hj. Herniyatun, M.Kep., S.Mat. Dalam sambutan singkatnya beliau mengatakan STIKES Muhammadiyah Gombong senantiasa berusaha mewujudkan visinya, menjadikan lembaga pendidikan kesehatan yang unggul modern dan islami, senantiasa memenuhi kebutuhan masyarakat terutama tentang perkembangan pendidikan khususnya pendidikan kebidanan. “Saat ini STIKES Muhammadiyah Gombong sedang proses mengajukan program studi profesi bidan, tinggal menunggu SK turun saja”, ucap beliau. Kegiatan webinar kali ini merupakan salah satu usaha institusi ksehatan satu-satunya di Kebumen ini untuk menciptakan lulusan kebidanan yang Islami dan berjiwa enterpreneur.
Sebagai pemateri pertama yakni dr. Faiz Allaudien Reza Mardhika seorang dokter umum, CEO Tradha Group dan Founder Ascendia. Pada kesempatan ini pemateri menyampaikan materi dengan topik “Strategi menjadi Pengusaha Muda” Selanjutnya pemaparan oleh pemateri kedua Dr. Ade Jubaedah, S.SiT., MM., MKM yang menjabat sebagai Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia dengan materi Kebijakan Organisasi Profesi Bidan tentang Legalitas Pelayanan Praktek Mandiri Bidan”. Pemateri Ketiga Lutfia Uli Na’mah, S.ST., M.Kes. yang merupakan dosen program studi D3 Kebidanan STIKES Muhammadiyah Gombong dengan tema “Teknik Marketing Kebidanan”, dan pemateri keempat yakni Prita Yusita, S.Tr.Keb. selaku Bidan, CEO Ibu Alam Natural Birth & Breastfeeding Support dengan materi “Inovasi dan Kreativitas Bidan dalam Pelayanan Ibu dan Anak”.
Kegiatan ini dimoderatori oleh mahasiswa program studi D3 Kebidanan, Nova Destry Fabya yang cukup piawai mengatur lalu lintas dialog di media daring ini sehingga kegiatan berjalan dengan lancar. Dengan terselenggaranya acara webinar ini, penyelenggara berharap semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan mampu memotivasi seluruh pesertanya untuk mengaplikasikan materi yang disampaikan di kehidupan sehari-hari.
by Humas Unimugo | Nov 5, 2020 | Berita Terkini
Curah hujan tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Kebumen akhir-akhir ini menyebabkan sebagian wilayahnya tergenang banjir dan tanah longsor. Banjir dan tanah longsor yang terjadi akibat beberapa tanggul yang jebol ini berdampak pada warga masyarakat yang tinggal disekitar tanggul. Bahkan banyak masyarakat yang terpaksa mengungsi. Dilansir dari wartaekonomi.co.id, kerugian yang dialami warga antara lain 7 unit rumah rusak berat, 16 unit rumah rusak sedang, 67 unit rumah rusak ringan, 2 sarana pendidikan, 36 titik jalan, 5 unit jembatan, dan 13 unit tanggul rusak.
Dalam upaya percepatan penanganan bencana banjir di wilayah Kabupaten Kebumen, sejumlah 31 mahasiswa STIKES Muhammadiyah Gombong yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Korp Suka Rela (KSR) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) diterjunkan langsung ke lokasi bencana pada 28 Oktober 2020.
Mahasiswa bekerja sama dengan MDMC Kebumen bergerak ke wilayah Kecamatan Puring menuju tempat pengungsian warga. Bantuan yang diberikan berupa obat-obatan, logistik, bantuan evakuasi warga, dan tim medis yang bertugas mengecek kesehatan para pengungsi. “Upaya ini merupakan bentuk kepedulian STIKES Muhammadiyah Gombong kepada sesama, semoga bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana” tutur Dr. Herniyatun, M.Kep., Sp.Mat. selaku Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong.
by Humas Unimugo | Nov 4, 2020 | Berita Terkini
STIKES Muhammadiyah Gombong pada tanggal 28 Oktober 2020 lalu telah melaksanakan Asesmen Lapangan secara Daring (ALD) dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) untuk program studi Profesi Ners. Asesmen yang dilakukan oleh asesor Dr. Tri Ratnaningsih, S.Kep.Ns., M.Kes dari STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto, Dr. Tintin Sukartini, SKp, M.Kes dari Universitas Airlangga, dan Listyana Natalia Retnaningsih, S. Kep, Ns, MSN dari Universitas Respati Yogyakarta ini berlangsung selama 4 hari yaitu 28 – 31 Oktober 2020. Akreditasi ini dilaksanakan dengan harapan hasil akreditasi ulang kali ini bisa memberikan hasil terbaik yaitu naik peringkat atau minimal peringkat B.
Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, Dr. Herniyatun, M,Kep. Sp.Mat. dalam sambutannya memberikan ucapan selamat datang kepada para asesor yang bertugas serta memaparkan berbagai perbaikan dan peningkatan kualitas yang dilakukan civitas akademika STIKES Muhammadiyah Gombong tidak hanya sarana dan prasarana penunjang, tetapi juga peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
Kegiatan ini juga sukses terselenggara dengan kerjasama dari berbagai pihak seperti alumni, stakeholder, dan instansi mitra kerjasama STIKES Muhammadiyah Gombong baik dalam maupun luar negeri.
Asesmen Lapangan secara daring berlangsung lancar dan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Walaupun dilaksanakan secara online menggunakan aplikasi zoom, tetapi tidak menyurutkan semangat civitas akademika untuk menyajikan yang terbaik. Semoga dengan usaha maksimal yang telah dilakukan akan mendapatkan hasil terbaik demi kemajuan STIKES Muhammadiyah Gombong.
by Humas Unimugo | Oct 30, 2020 | Blog
Oleh: Apt Titi Pudji Rahayu MFarm
Apotek merupakan tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian yang di dalamnya terdapat pengadaan obat, penyimpanan obat, peracikan dan penyaluran. Apotek juga merupakan tempat penjualan obat-obatan dan yang bertanggung jawab dalam pengelolaannya adalah seorang Apoteker yang merupakan seorang profesional di bidang farmasi.
Tugas dan fungsi Apoteker sebagai pelaksana manajemen apotek yang baik adalah memproduksi obat,mendesainnya serta mendistribusikan. Mengawasi obat yang diresepkan oleh dokter apakah sudah sesuai, berkualitas serta aman untuk dikonsumsi oleh pasien. Fungsi menjelaskan efek samping obat kepada pasien. Fungsi menjelaskan makanan dan obat apa saja yang harus dihindari saat sakit atau hamil. Dan menghitung dosis obat yang sesuai khusus perindividual terutama untuk bayi, anak-anak dan penyakit-penyakit tertentu.
Pengelolaan yang ada di apotek atau disebut manajemen apotek secara umum adalah perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian (5P). Perencanaan pengadaan obat didasarkan pada jumlah kebutuhan obat bisa disusun berdasarkan rencana kebutuhan dalam jangka waktu tertentu misalkan satu minggu atau satu bulan.
Pengadaan obat-obatan pada apotek menggunakan sistem pedagang besar farmasi (PBF) yang datang langsung ke apotek atau melakukan pemesanan melalui telepon untuk memenuhi pengadaan barang. Keterlambatan obat yang disebakan oleh kekosongan obat dari pabrik merupakan masalah yang sering di jumpai apotek dalam pengdaan barang dan cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu melakukan pemesanan saat persediaan di apotek mulai menipis tidak sampai stok obat benar-benar habis.
Penerimaan obat dengan prosedur pengecekan jumlah barang datang sesuai dengan jumlah pesanan, ED obat, kondisi barang datang dipastikan tidak terjadi kerusakan, barang diterima dan divalidasi oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) sebagai legalitas dibuktikan dengan tanda terima barang berupa tanda tangan, cap apotek dan penulisan Surat Ijin Apotek (SIA) Apoteker di faktur penerimaan barang.
Penyimpanan obat yang diterapkan oleh apotek yaitu penyusunan berdasarkan abjad, bentuk sediaan atau stabilitas atau kesesuaian suhu pada tempat penyimpanan obat. Penyimpanan obat yang biasa dilakukan di apotek yakni berdasarkan golongan obat di terapkan pada obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras dan obat narkotik.
Penyimpanan berdasarkan abjad diterapkan pada obat-obat yang bisa di jual secara bebas dan obat yang harus disertai dengan resep dokter. Tidak mengalami masalah yang berarti dan sesuai dengan standar yang telah di tetapkan. Penyimpanan berdasarkan bentuk sediaan diterapkan pada obat berupa sirup bebas, salep, injeksi, cairan dan lain-lain. Tidak mengalami masalah yang berarti dan sesuai dengan standar yang telah di tetapkan. Penyimpanan berdasarkan suhu yang dilakukan dengan tujuan agar obat tersebut tidak rusak seperti suppositoria, ovula dan insulin yang disimpan dalam lemari es supaya tidak merusak bentuk dan khasiatnya.
Pendistribusian obat atau penyaluran obat dibagi menjadi dua yaitu penyaluran menggunakan resep dokter dan non resep dokter. Resep dokter diterima oleh apotek secara umum dan diterima atas dasar kerja sama apotek dengan pihak lain misalkan BPJS. Pembelian obat tanpa menggunakan resep atau penjualan obat bebas, obat bebas terbatas harus terpantau oleh Apoteker. Masalah yang sering di jumpai yaitu adanya penyaluran obat psikotropika secara bebas tanpa menggunakan resep dokter sehingga penyaluran tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Keselamatan Petugas dan Pasien
Manajemen apotek dalam pengelolaan obat di masa pandemi virus Covid-19 merupakan hal sangat penting. Hal ini akan berpengaruh terhadap keselamatan petugas apotek dan pasien yang berkunjung ke apotek.Pengelolaan manajemen apotek sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus Covid-19 di apotek serta sebagai upaya perlindungan untuk personil apotek dari penularan virus Covid-19.
Protokol kesehatan dalam masa pandemi virus Covid-19 dibagi menjadi empat yaitu protokol kesehatan bagi petugas apotek, tempat sarana apotek, pasien yang berkunjung ke apotek dan manajemen khusus terhadap pasien yang diduga bergejala virus Covid-19.
Manajemen protokol kesehatan bagi petugas apotek meliputi petugas bekerja di ruangan bersih bebas dari virus. Protokol ruangan dengan pembersihan ruangan, pengukuran suhu secara mandiri sebelum memulai aktivitas dan pastikan tidak melebihi 38 C. Kemudian cuci tangan sebelum bekerja minimal 20 detik,menggunakan handsanitizer sesering mungkin, menggunakan masker, sarung tangan dan tidak berkontak langsung dengan pengunjung apotek, menjaga jarak minimal satu meter dengan petugas apotek lain danpengunjung apotek. Hindari menyentuh wajah terutama bagian mata, mulut, dan hidung.
Personil apotek wajib menjaga stamina tubuh dengan makan makanan yang bergizi, mengkonsumsi vitamin atau suplemen, dan banyak minum air putih hangat. Apabila personil apotek dalam keadaan batuk atau bersin harus ditutup dengan tisu atau dengan punggung lengan.
Next artikel : https://suaramerdekakedu.id/manajemen-apotek-saat-pandemi-covid-19/6/
by Humas Unimugo | Sep 30, 2020 | Blog
TUBERKULOSIS merupakan salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global SDG’s. Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberculosis. Selama lima tahun, 2014-2018 angka keberhasilan pengobatan (succes rate) dan angka kesembuhan TB Paru di Kabupaten Kebumen menunjukkan trend yang sama. Indikator angka keberhasilan dari tahun 2017 turun dari tahun sebelumnya yaitu 74,21%.
Penanggulangan TB diperlukan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangannya. Keberhasilan dalam penanggulanagan TBC di suatu wilayah tidak terlepas dari adanya peran masyarakat yang diupayakan melalui proses pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan TBC yaitu menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam memutus mata rantai penularan TBC.
Permasalahan penyakit TB merupakan permasalahan yang kompleks sehingga harus dipecahkan bersama, mulai dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan sebagai leading sector pada program ini, tokoh masyarakat sebagai reference dari masyarakat dan lintas sektor harus dilibatkan dalam penanggulangan Penyakit TB.
Proses penyembuhan penderita TB tidak hanya dipengaruhi ketersediaan obat dan pelayanan yang diberikan oleh petugas Puskesmas. Tetapi juga dipengaruhi oleh keberdayaan ekonomi, asupan gizi, hambatan sosial dan kultural yang ada di masyarakat serta kemampuan dalam mengakses pelayanan kesehatan.
Hal ini sejalan dengan arahan dari Kementerian Kesehatan yang telah mengubah strategi penemuan pasien TB tidak hanya “secara pasif dengan aktif promotif” tetapi juga melalui “penemuan aktif secara intensif dan masif berbasis keluarga dan masyarakat“ serta melalui pemberdayaan masyarakat secara optimal, dengan tetap memperhatikan dan mempertahankan layanan yang bermutu sesuai standar.
Pengabdian Masyarakat
Pelibatan kader dalam program penanggulangan TB merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui kegiatan menginformasikan, mempengaruhi dan membantu masyarakat agar berperan aktif dalam penemuan dan pendampingan pasien TB.
Peran aktif kader ini akan dapat dipenuhi dengan membekali kader kesehatan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Pengetahuan dan keterampilan tersebut salah satunya dapat diperoleh melalui pelatihan atau penyuluhan penemuan dan pendampingan pasien TB bagi kader kesehatan.
Upaya pencapaian target penemuan kasus TBC sangat ditentukan oleh dukungan seluruh jajaran lintas sektor dan peran serta seluruh lapisan masyarakat termasuk organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, kalangan swasta, dan dunia usaha. Penemuan kasus yang tinggi disertai tatalaksana kasus yang baik akan menjamin Eliminasi TBC tahun 2030 dapat tercapai.
Stikes Muhammadiyah Gombong, melalu tri dharma perguruan tingginya yaitu Pengabdian Masyarakat mencoba mengimplemetasikan pemberdayaan masyarakat melalui pengaktifan kembali Kelompok Masyarakat Peduli TB (KMP-TB) di Kecamatan Puring-Kebumen yang terdiri dari kader, toga, toma, dan masyarakat mantan penderita.
Kegiatan ini dilakukan dengan mengaktifkan kembali peran KMP-TB melalui kegiatan-kegiatan pelatihan, focus group discussion, dan bakti sosial pembagian PMT kepada masyarakat berisiko TB. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diakhiri dengan rapat evaluasi bersama dengan unit kerja pemangku kepentingan seperti kecamatan, puskesmas, desa serta anggota KMP-TB Puring agar setelah kegiatan ini Peran KMP-TB dapat maksimal bersinergis dengan program pemerintah dalam menanggulangi TB.
Ns Isma Yuniar MKep, Dosen Stikes Muhammadiyah Gombong
Sumber : https://suaramerdekakedu.id/pentingnya-pemberdayaan-masyarakat-kmp-tb-dalam-program-penanggulangan-tb/