(0287) 472 433 rektorat@unimugo.ac.id

Dr. Siti Muthoharoh, MPH pada saat menyampaikan materi Program Tripel Eliminasi Jadi Kunci Selamatkan Generasi Bangsa. Dok. Foto Humas UNIMUGO

Gombong UNIMUGO – Momentum wisuda dan pengambilan sumpah profesi di Universitas Muhammadiyah Gombong pada Sabtu, 9 Mei 2026 menjadi lebih bermakna melalui orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Siti Mutoharoh, S.ST., MPH. Dalam orasinya yang bertajuk “Fidelity Program Tripel Eliminasi Ibu Hamil di Kabupaten Kebumen: Implementation Research”, ia menyoroti pentingnya kualitas pelaksanaan layanan kesehatan ibu hamil sebagai upaya melindungi generasi masa depan.

Di hadapan para wisudawan, pimpinan universitas, dosen, serta tamu undangan, Dr. Siti Mutoharoh mengajak seluruh hadirin membayangkan kondisi sederhana namun sangat penting: seorang ibu hamil yang datang ke fasilitas kesehatan dengan harapan melahirkan bayi sehat, tetapi masih menghadapi risiko penularan HIV, Hepatitis B, dan sifilis kepada bayinya.

Menurutnya, ketiga penyakit tersebut masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu dan anak karena dapat menular selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Dampaknya pun tidak ringan, mulai dari gangguan kesehatan, kecacatan, hingga kematian ibu dan bayi.

“Program tripel eliminasi sebenarnya telah hadir sebagai solusi untuk mencegah penularan HIV, Hepatitis B, dan sifilis dari ibu ke anak. Namun tantangan terbesar bukan hanya menghadirkan program, melainkan memastikan program benar-benar berjalan sesuai standar,” ungkapnya dalam orasi ilmiah tersebut.

Dr. Siti Mutoharoh menjelaskan, Kabupaten Kebumen pernah menjadi salah satu daerah dengan angka kasus HIV dan AIDS tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2022. Di sisi lain, layanan tripel eliminasi di puskesmas masih memiliki cakupan sekitar 70 persen dan belum mencapai target WHO sebesar 95 persen.

Kondisi inilah yang mendorong dirinya melakukan penelitian implementation research dengan pendekatan implementation fidelity, yaitu menilai sejauh mana program kesehatan dijalankan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2020–2023 tersebut, ia menemukan bahwa cakupan pemeriksaan ibu hamil sempat meningkat dari 75 persen menjadi 84 persen pada tahun 2022, namun kembali menurun pada tahun 2023. Meski demikian, seluruh ibu hamil yang terdeteksi positif HIV, Hepatitis B, maupun sifilis telah mendapatkan penanganan sesuai standar pelayanan kesehatan.

“Artinya, tantangan utama kita bukan pada pengobatan, tetapi bagaimana menjangkau lebih banyak ibu hamil agar bersedia melakukan pemeriksaan sejak dini,” jelasnya.

Penelitian tersebut juga mengungkap berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan program. Dari sisi layanan kesehatan, masih ditemukan kendala pada kebijakan, pedoman, dan standarisasi SOP yang belum berjalan optimal di seluruh puskesmas. Selain itu, variasi kualitas komunikasi dan konseling kepada ibu hamil juga masih terjadi.

Sementara dari sisi masyarakat, hambatan yang muncul antara lain kurangnya pemahaman ibu hamil mengenai pentingnya pemeriksaan, rasa takut diperiksa, jarak fasilitas kesehatan, hingga dukungan keluarga yang belum maksimal.

Namun demikian, penelitian ini juga menemukan kekuatan besar dari peran bidan dan kader kesehatan dalam memberikan edukasi serta pendampingan kepada masyarakat. Peran mereka dinilai menjadi ujung tombak keberhasilan program tripel eliminasi di tingkat komunitas.

Dalam orasinya, Dr. Siti Mutoharoh menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah layanan yang tersedia, tetapi dari kualitas pelaksanaan layanan yang benar-benar mampu melindungi ibu dan bayi.

Ia juga mendorong penguatan kebijakan, pelatihan tenaga kesehatan, monitoring program secara berkelanjutan, serta peningkatan keterlibatan masyarakat melalui peran bidan, kader, keluarga, dan pemerintah desa.

“Keberhasilan program tripel eliminasi adalah investasi besar untuk masa depan bangsa. Ketika ibu sehat dan bayi terlindungi sejak dalam kandungan, maka kita sedang mempersiapkan generasi Indonesia yang lebih kuat dan berkualitas,” tegasnya.

Orasi ilmiah tersebut menjadi salah satu momentum inspiratif dalam rangkaian wisuda dan pengambilan sumpah profesi di Universitas Muhammadiyah Gombong. Selain menampilkan capaian akademik, kegiatan ini juga mempertegas komitmen kampus dalam mendorong penelitian yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di bidang kesehatan ibu dan anak.

Translate »