(0287) 472 433 rektorat@unimugo.ac.id

Warga Muhammadiyah Kecamatan Gombong Melaksanakan Sholat Idul Fitri di Halaman Kampus STIKes Gombong

Setelah berpuasa selama satu bulan penuh, tepat tanggal 5 Juni 2019 umat Islam merayakan kemenangan karena telah berhasil menundukkan hawa nafsu dan banyak mengerjakan amal shalih. Pada hari ini, umat Islam khususnya Kecamatan Gombong bersama-sama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong  melaksanakan shalat Idul Fitri 1440 H di halaman parkir Kampus STIKes Muhammadiyah Gombong.

Sebagai imam sholat Ustd.Wasikin imam masjid Asyifa dan Khotib Ustd. Puji Handoko, S.Ag Ketua LPPI STIKes Muhammadiyah Gombong.  Dalam khutbahnya disampaikan bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. kita sebagai umat muslim harus senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun termasuk pada hari ini kita masih diberikan kenikmatan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri bersama keluarga.

Terselenggaranya kegiatan ini atas kerjasama STIKes Muhammadiyah Gombong dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong. Pelaksanaan kali ini tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya diikuti oleh karyawan AUM, warga sekitar dan simpatisan Muhammadiyah di Kecamatan Gombong.

Di hari kemenangan ini atas nama civitas akademika STIKes Muhammadiyah Gombong Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1440 H mohon maaf lahir dan batin.

Dosen STIKes Gombong Latih Pembimbing Klinik RSU Aghisna

Para CI (Clinical Instruktur) RSU Aghisna Medika Kroya mengikuti Pelatihan Preceptorship, Kamis-Jumat (2-3/5) yang diselenggarakan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Gombong melalui CDC (Career & Development Centre).

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari di aula Gedung Baru RSU Aghisna Medika Kroya setempat itu, sebanyak 24 tenaga perawat dilatih dengan berbagai materi Preceptorship oleh 4 instruktur yakni Isma Yuniar, M.Kep, Eka Riyanti, M.Kep, Dadi Santoso, M.Kep & Ike Mardiyati Agustin, M.Kep, Sp.Kep. J yang kesemuannya adalah dosen keperawatan di STIKes Gombong.

Dalam pelatihan yang dibuka oleh pihak manajemen rumah sakit dr. Boby, sejumlah materi yang disampaikan meliputi Konsep Dasar Pembelajaran Klinik, Konsep Preceptor, Learning Outcome, Model Bimbingan Preceptorship, Implementasi Program Preceptorship, Role Play, Evaluasi Pembelajaran Klinik, Presentasi Kelompok & umpan Balik dari Narasumber. Tak sekadar teori, mereka juga melakukan praktik pembelajaran seperti BST (Bed Side Teaching) terhadap pasien.

Ketua CDC Putra Agina S, MKep menjelaskan, pelaksanaan pelatihan bertujuan agar Peserta pelatihan mampu melaksanakan proses bimbingan klinik bagi peserta didik keperawatan di RSU Aghisna Medika Kroya dengan pendekatan metode preseptor-mentorship dalam system pelayanan keperawatan di rumah sakit. .

Lebih lanjut, Putra Agina menambahkan, pelatihan Preceptorship yang baru pertama kali dilaksanakan di RSU Aghisna itu merupakan tindak lanjut  MoU Tri Dharma Perguruan Tinggi dari evaluasi stakeholder tempat lahan praktik mahasisa Stikes Gombong terkait kemampuan dalam membimbing mahasiswa praktik. Dengan demikian, setelah seselai mengikuti pelatihan, pembimbing klinik/CI mampu membimbing mahasiswa sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan.

Selama Ramadan, Stikes Muhammadiyah Gombong Tingkatkan Amaliyah Ibadah

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Gombong menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1440 H dengan menggelar Pengajian Jelang Ramadan (Pajero), Sabtu (4/5) siang.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Baru Laboratorium Farmasi dan Perpustakaan Centra kampus setempat itu menghadirkan pembicara KH Mudhofir BA. Acara dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Drs H Tafsir MAg, jajaran civitas akademika beserta keluarganya.
Selain pengajian, dalam acara tersebut juga diberikan santunan kepada 29 anak panti asuhan yatim dan dhuafa Muhammadiyah Gombong dan 17 anak Panti Asuhan Yatim dan Dhuafa Aisyiyah Gombong. Secara simbolis penyerahan dilakukan oleh anggota BPH Stikes Muhammadiyah Gombong Tarzan Al Maftuh BA didampingi Ketua Stikes Hj Herniyatun MKep Sp Mat.
Ketua Lembaga Pengembangan dan Pengamalan Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Stikes Muhammadiyah Gombong Puji Handoko SAg MPd menjelaskan, berbagai amaliyah ibadah digelar selama bulan Ramadan. Antara lain yang digelar rutin adalah tadarus Alquran dan kajian mahasiswa yang dilaksanakan setiap pagi sebelum perkuliahan.
Setiap hari mengawali aktivitas kampus, seluruh pegawai juga melaksanakan tadarus Alquran dan kajian keislaman, mulai fiqih puasa, hikmah puasa, tata cara ibadah, akhlak, dan pengkaderan Muhammadiyah. Selain itu digelar kajian keislaman menjelang berbuka puasa di radio Radio Purbowangi 104 FM.
“Amaliyah Ramadan ini sebagai salah satu upaya Stikes Muhammadiyah Gombong dalam mewujudkan visi menjadi lembaga pendidikan kesehatan yang unggul, modern dan Islami,” ujar Puji Handoko di sela-sela acara.
Selain itu, pihaknya juga menggelar bakti sosial dan silaturahmi. Bakti sosial dan silaturami akan digelar di lima kecamatan yakni Buluspesantren, Kamis (9/5), Ambal Senin (13/5), Kutowinangun, Kamis (16/5), Pejagoan, Senin (20/5) dan Poncowarno, Kamis (23/5).
Acara dimulai dengan ceramah kajian pendek, pembagian paket bingkisan kepada masyarakat kurang mampu dan dilanjutkan dengan shalat ashar berjamaah. Masing-masing lokasi bingkisan yang diberikan sebanyak 100 paket. Sehingga total yang dibagikan sebanyak 500 paket senilai Rp 50.000 per paketnya.
“Selain menyambut bulan suci Ramadan, kegiatan ini sebagai syiar keislaman, sekaligus mendukung program persyarikatan Muhammadiyah dalam melakukan pembinaan di masyarakat utamanya di bulan Ramadan,” ujar Puji Handoko didampingi Bagian Humas Ukis Erliwianto SE.

Kasus Stunting Harus Ditangani Secara Terpadu

Stunting masih menjadi persoalan serius di Indonesia tak terkecuali di Jawa Tengah. Berdasarkan pemantauan status gizi 2015-2017, dari 35 kabupaten kota di Jateng, delapan kabupaten kota selama tiga tahun mengalami peningkatan prevalensi berturut-turut.

Delapan kabupaten kota itu adalah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, Sukoharjo, Purbalingga, Pemalang, Tegal dan Blora. Untuk balita stunting dari 35 kabupaten kota, tidak ada kabupaten kota dengan prevalensi 20 persen. Sedangkan untuk balita kurus empat kabupaten kurang dari 5 persen yakni Temanggung, Banjarnegara, Kebumen dan Wonosobo.

Selain itu di Jateng  terjadi peningkatan prevalensi kurang, pendek dan gemuk. Status gizi balita di Jateng 2017, dari 35 kabupaten kota, dua kabupaten kota dengan prevalensi kurang dari 10 persen  yakni Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional “Intervensi Holistik Integratif Penanganan Anak Stunting” di Stikes Muhammadiyah Gombong, Kebumen, baru-baru ini. Seminar yang diikuti sekitar 1.000 peserta se-Barlingmascakeb itu digelar atas kerjasama antara Stikes Muhammadiyah Gombong, Stikes  Al Irsyad Al Islamiyah Cilacap serta Ikatan Perawat Anak Nasional Indonesia (IPANI) menghadirkan pembicara kunci Kepala Dinas Kesehatan Jateng dr Yulianto Prabowo MKes.

Pembicara lain hadir Ketua Umum IPANI Pusat Dr Nani Nurhaeni yang memaparkan materi kaitan pola asuh dengan stunting, dosen keperawatan anak Stikes Muhammadiyah Gombong Nurlaila  MKep NS dengan materi intervensi nutrisi lintas generasi dan dosen keperawatan anak Stikes Al Irsyad Al Islamiyah Cilacap menyampaikan materi stimulasi dan pengasuhan balita stunting. Usai seminar acara dilanjutkan dengan Rakor IPANI wilayah Barlingmascakeb.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dr Yulianto Prabowo MKes menjelaskan, stunting merupakan kondisi tinggi badan seorang lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya. Penyebab stunting multi-dimensional meliputi praktik pengasuhan yang tidak baik, kurangnya akses ke bahan bergizi, terbatasnya layanan kesehatan,  hingga kurangnya akses ke air bersih.

Pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan masih kurang, 55 persen anak  seusia 0-6 tidak mendapatkan ASI eksklusif,  satu dari tiga anak usia 6-23 bulan tidak menerima MP-ASI tepat.Tiga anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD, dua dari tiga bumil belum mengkonsumsi suplemen besi yang memadai, menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu.

“Faktor lain tidak mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi, kurangnya akses ke bahan makanan bergizi. Satu dari tiga  ibu hamil anemia, bahan makanan mahal, kurangnya akses ke air nersih,” ujarnya.

Untuk itu, Yulianto meminta komitmen dan kerjasama menyeluruh dan terpadu semua sektor untuk menekan angka stunting di Jateng. Apalagi stunting menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan.

“Kami membutuhkan kerjasama lintas sektoral untuk menanggulangi stunting,” ujarnya.

Dukungan Pemprov Jateng sebagai sumber potensi untuk penanganan stunting antara lain  bantuan keuangan penanggulangan GAKY di 35 kabupaten kota dengan APBD Rp 1,4 miliar sejak tahun 2015 .

“Tahun 2018 pihaknya mendorong komitmen kabupaten kota melalui forum workshop atau advokasi, pembentukan tim penanggulangan kekurangan gizi tingkat desa,”  ujarnya.

Cegah Stunting

Adapun pencegahan stunting dilakukan dengan intervensi melalui gizi spesifik yakni dilakukan di sektor kesehatan, ditujukan khusus untuk 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) bersifat jangka pendek dan hasilnya didapat dalam waktu relatif pendek. Kemudian, kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan, sasaran mayarakat umum dan bersifat jangka panjang.

Ketua IPANI Pusat Dr Nani Nurhaeni menegaskan stunting memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Pada jangka pendek, meningkatan kejadian kesakitan dan kematian, perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal dan peningkatan biaya kesehatan.

Sedangkan pada jangka panjang, kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah produktifias dan kapasitas kerja yang tidak optimal. Keterlambatan perkembangan fisik, postur tubuh tidak optimal saat dewasa, penurunan kesehatan reproduksi dan kesehatan yang buruk dan peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti diabetus militus.

“Pencegahan stunting diperlukan sinergitas multi-aktor dan peran stakholder mulai dari pemerintah pusat dan daerah,  organisasi profesi, mitra pembangunan, media massa, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, parlemen hingga badan PBB,” ujar dosen FIK Universitas Indonesia  (UI) tersebut.

Ketua IPANI Barlingmascakeb sekaligus panitia seminar Rusana MKep Ns SpKep An menjelaskan, seminar itu digelar melihat  masalah nasional tentang stunting. Stunting menjadi isu dalam keperawatan anak yang  harus dituntaskan multisektoral mulai masa ramaja, kehamilan, persalinan, kelahiran.

“Kasus stunting tidak hanya masalah gizi. Tetapi perilaku orang tua dan keluarga banyak mengakibatkan  anak menjadi  stunting,” ujarnya Pembantu Ketua I Stikes Al Irsyad itu mengharapkan seminar itu dapat menyamakan persepsi sehingga pemerintah dan perguruan tinggi memiliki persamaan persepsi dan selaras dalam menangani stunting.

Mahasiswa DIII Keperawatan Stikes Gombong Ikuti Training Keselamatan Kerja

Mahasiswa Program Studi (Prodi) DIII Keperawatan  tingkat tiga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Gombong yang mengambil peminatan unggulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja  (K3) mendalami materi melalui inhouse training. Inhouse Training Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Paramedis tidak hanya diikuti oleh mahasiswa tetapi juga perawat dan dosen.

Pelatihan yang berlangsung Senin-Jumat (25-29/3) itu menggandeng Balai Kesehatan dan Keselamatan Kerja  (K3) Jawa Tengah. Selama lima hari, 40 peserta mendapatkan berbagai materi yang disampaikan oleh para narsumber yang berkompeten di bidangnya.

Hari pertama Dr Sudaima SSi MSi menyampaikan materi kebijakan dan organisasi K3 dan perundang-undangan di bidang K3. Kemudian Kuntodi PgDipSc MSi  menyampaikan materi hiperkes dan keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Dokter Diah Wahyu MKes pada hari kedua menyampaikan materi penyakit akibat kerja dan sistem pelaporan, pengelolaan makan di tempat kerja. Disambung dokter Budiastuti DH MKes menyampaikan materi prinsip dasar dan filosofi kesehatan kerja dan promosi kesehatan kerja dan pencegahan HIV/AIDS serta program rehabilitasi medis.

Pada hari ketiga dan keempat, materi disampaikan antara lain ergonomi dan fisiologi kerja, tanggap darurat kebakaran di tempat kerja, hiperkes faktor kimia, hiperkes faktor fisika, dan sistem menajemen K3. Selain itu juga menghadirkan BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Pembantu Kebumen untuk menyampaikan materi terkait BPJS Ketenagakerjaan. Selain sistem klasikal, dalam pelatihan itu juga dilakukan kunjungan perusahaan ke PT Mitra Prasmitha Selaras (PMS) Sempor dan praktik pembuatan laporan.

Sekretaris Prodi DIII Keperawatan Stikes Muhammadiyah Gombong Bambang Utoyo SKep Ns MKep menjelaskan bahwa baru pertama kali pihaknya menggelar pelatihan K3 menggandeng Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah. Harapannya para mahasiswa semakin memahami K3 sehingga bisa diterapkan saat bekerja baik di layanan kesehatan maupun perusahaan lain.

“Setelah selesai mengikuti pelatihan mahasiswa akan mengembangkan K3 di wilayah Kebumen dan sekitarnya,” ujar Bambang Utoyo di sela-sela pelatihan.

Menurut Bambang, pelatihan K3 biasanya dilaksanakan oleh perusahaan kepada para pegawainya. Dengan demikian, lulusan yang telah memiliki sertifikat  K3 akan memiliki nilai lebih sehingga tidak perlu lagi mengikuti pelatihan di perusahaan.

Translate »