(0287) 472 433 rektorat@unimugo.ac.id

Sehat Jiwa Saat Ramadhan di Tengah Pandemi Covid 19

Indonesia bahkan Dunia saat ini sedang berada dalam masa berduka akibat adanya Pandemi Covid 19. Pandemi ini merupakan bencana non alam. WHO (2020) Telah menyatakan bahwa pandemic covid 19 ini dapat meningkatkan stres pada seluruh lapisan masyarakat. Kondisi stres dan masalah psikologis lainnya yang akan berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang.

Beberapa respon psikologis yang dapat muncul dikaitkan dengan pandemic ini antara lain adanya rasa takut akan kematian, adanya klasifikasi tentang status penderita covid yaitu ODP, PDP, OTG dan Terkonfirmasi Covid, ketakutan akan tertular, adanya kepanikan akibat informasi yang simpang siur beredar luas, kepanikan akan langkanya alat pelindung diri (APD), adanya kebijakan tentang pembatasan social berskala besar, stress karena keterbatasan aktifitas ibadah, perubahan ritme dalam aktivitas bekerja sejalan dengan munculnya kebijakan WFH (Work From Home), perubahan proses sekolah (Windarwati, Dwi Heni. 2020), dengan kondisi-kondisi tersebut diperlukan upaya untuk tetap menjaga psikologis kita agar senantiasa sehat jiwa apalagi dikaitkan saat ini kita berada di bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan istimewa yang dinantikan seluruh umat muslim di dunia, berbagai kegiatan ibadah dan tradisi keagamaan yang khas sebagai syiar Ramadhan muncul di bulan ini, akan tetapi Ramadhan tahun 1443 H/2020 Masehi ini sangat jauh berbeda dengan adanya pandemic covid 19, sejalan dengan Adanya kebijakan social and physical distancing (pembatasan jarak fisik dan sosial) yang membatasi kegiatan-kegiatan yang mengundang berkumpulnya banyak orang. Perbedaan yang dirasakan ini dapat menambah daftar pemicu munculnya masalah Kesehatan psikologis masyarakat selain pandemic yang masih ada. Namun demikian perlu kita renungkan bersama bahwa pembatasan kegiatan syiar Ramadhan dalam keramaian tidak berarti menghentikan ghirah Ramadhan kita.

Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga diri kita sehat jiwa saat Ramadhan di tengah corona ini, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia telah merumuskan pedoman yang dapat di jadikan acuan bagi masyarakat untuk tetap menjaga diri sehat jiwa sehingga imunitas kita semakin meningkat dan pada akhirnya akan terhindar dari corona, beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan imunitas Kesehatan jiwa saat Ramadhan antara lain:

  1. Emosi positif dengan cara selama Ramadhan di rumah dengan melakukan kegiatan dan hobby yang disukai baik sendiri maupun Bersama keluarga.
  2. Pikiran positif :Selama Ramadhan jauhkan dari informasi hoax, bicara pada diri sendiri tantang hal positif dan selalu yakin bahwa pandemic akan
  3. Hubungan sosial yang positif :member pujian, saling menguatkan antar sesama, saling menguatkan ikatan emosi antar keluarga, hindari diskusi yang negative dan saling menjaga silaturahmi antara rekan kerja, teman atau seprofesi
  4. Secara rutin tetap beribadah di rumah (Suasana berpuasa dirumah akan memberikan banyak waktu untuk memperbanyak bacaan Al-Quran zikir, shalat sunnat, dan semakin dekat dengan keluarga, berbagi takjil, bersedekah kepada orang yang berkekurangan, terutama yang terdampak Covid-19 ini.

Demikian hal-hal yang dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua untuk senantiasa sehat jiwa selama Ramadhan, semoga pandemic ini segera berakhir .Aamiin.

 

(Sumber )

Inter Agency Standing Committee (IASC). 2020. Catatan Tentang Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah Covid-19 Versi 01.

Windarwati, Dwi Heni. 2020. Panduan Praktis Rapid Respon dan penanganan diri aspek psikososial tarhadap covid 19. Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia Provinsi Jawa Timur

Kementrian Kesehatan RI, 2020. Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid 19. Jakarta

Keliat, Budi Anna,dkk. 2020. Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid 19. Jakarta. IkatanPerawat Kesehatan Jiwa Indonesia

Saenong. F.Faried, Zuhri, Saefudin. Dkk. 2020. Fikih Pandemi Beribadah di Masa Wabah. Nuo Publishing. Jakarta

 

Puasa dalam Kepungan Corona

Marhaban Ya Ramadhan. Bulan Ramadhan identik dengan bulan ibadah, berlomba meraih pahala sebanyak-banyaknya melalui ibadah puasa, tarawih, zakat, dan ibadah lainnya. Namun ada yang berbeda dengan bulan Ramadhan tahun ini. Momen ritual sebulan penuh yang biasa disambut dengan semarak, tahun ini akan penuh dengan keterbatasan.

Beberapa masjid telah ditutup semenjak merebaknya wabah virus Corona dan adanya himbauan pemerintah untuk membatasi kegiatan dalam skala besar. Berbagai pembatasan itu dilakukan dalam rangka untuk mencegah penularan lebih luas lagi dari virus ini. Pada Ramadhan kali tentu saja akan sangat jarang ditemui kegiatan beramai-ramai di masjid di saat tarawih, buka bersama, atau barangkali sekadar ke pasar sore. Sebagai umat Islam kita meyakini bahwa semua ini adalah skenario Allah.

Allah sedang mengingatkan kita akan kuasanya. Di awal penyebaran virus Corona di Wuhan, ilmuwan belum dapat memastikan detail cara virus ini menular dari binatang ke tubuh manusia. Selain itu, Allah belum mengizinkan produksi vaksin tersebut secara massal karena masih harus menjalani tahap uji klinis.

Virus corona atau yang disebut covid-19 atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, seperti pneumonia, distres pernafasan, hingga kematian. Walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini menyerang semua usia dari anak-anak, dewasa hingga ibu hamil dan menyusui. Setidaknya lebih dari 110 negara dengan ratusan ribu kasus positif covid-19. Lalu, bagaimanakah puasa kita di tengah pandemi ini?

Seperti yang kita ketahui bahwa puasa adalah ibadah wajib kecuali bagi beberapa orang yang memiliki udzur untuk tidak menjalankan puasa. Berpuasa adalah ketaakwaan, melatih menahan hawa nafsu, merasakan sedikit lapar seperti halnya saudara kita lainnya yang sering merasakan lapar karna kekurangan. Puasa mengajarkan kita saleh secara individu dan saleh secara sosial. Bonus dari menjalankan ibadah puasa itu sendiri adalah sehat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada sebagian nabi dari bani Israil: Kabarkanlah kepada kaummu, tiada seorang hamba yang berpuasa sehari kecuali mengharapkan ridha-Ku maka Aku sehatkan tubuhnya dan Aku besarkan pahalanya.” (HR. Baihaqi)

Manfaat Puasa dari Segi Kesehatan

Sesuai dengan sabda Rasul tersebut, beberapa manfaat puasa dipandang dari segi kesehatan, di antaranya adalah pembebasan tubuh dari lemak bertumpuk yang menjadi sumber penyakit. Maka, lapar merupakan cara terbaik untuk mengatasi kegemukan tersebut. Selanjutnya puasa juga bermanfaat untuk membuang kotoran dan racun tubuh yang merusak. Proses detoksikasi ini akan membantu menyegarkan tubuh setelah sekian lamanya menumpuk racun dalam tubuh.

Diketahui bahwa puasa memiliki pengaruh positif terhadap banyak penyakit, di antaranya penyakit maag, tekanan darah tinggi, stress maupun depresi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka yang berpuasa sebulan sekali memiliki risiko 58 persen lebih rendah terkena penyakit jantung, dibandingkan mereka yang tidak menjalani puasa. Karena itu puasa mempunyai dampak positif yang mengagumkan dalam menjaga kesehatan.

Sebaliknya puasa dapat melemahkan tubuh dan membahayakan kesehatan jika tidak dilakukan dengan tepat. Seperti misalnya kebiasaan tidur setelah sahur, di mana pada saat sahur inilah hormon kortisol tubuh sedang meningkat dan stimulus simpatis sedang optimal. Seseorang yang tidur setelah sahur, maka terjadi penumpukan hormon di dalam tubuhnya yang justru mengganggu proses metabolisme, sehingga ketika bangun tidur akan terasa pusing dan pegal di sekujur tubuh.

Kebiasaan kurang baik lainnya adalah mengkonsumsi air manis saat berbuka. Pada saat puasa tubuh akan mengalami dehidrasi dan hipoglikemia, maka tidak dianjurkan mengkonsumsi gula (karbohidrat simpleks) secara mendadak. Anjuran berbuka adalah dengan mengkonsumsi kurma, atau jika tidak ditemukan kurma, dianjurkan untuk minum air putih. Kurma dianjurkan oleh Rasulullah karena kandungan kurma adalah karbohidrat kompleks sehingga tidak akan mengganggu profil gula darah dalam tubuh.

Jadikan ketaatan kita untuk tetap menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya tentunya dalam sikap waspada sesuai anjuran WHO maupun pemerintah. Kita tidak perlu takut berlebihan dalam keadaan saat ini yang dikatakan sedang dikepung virus corona. Yang harus kita tingkatkan adalah kewaspadaan dan ketaatan kita terhadap Allah dan ulil amri.

Ibadah adalah pilar Islam sepanjang tahun. Akan tetapi, di bulan Ramadhan ibadah dirasakan lebih istimewa. Sejatinya kita diberikan waktu lebih banyak untuk melaksanakan ibadah. Wabah virus pasti mengubah cara kita semua melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Saat menghadapi musibah ini, hendaklah kita tetaap bersabar, ridho, dan bersyukur atas semua kuasa Allah. Akan kita raih keberkahan dan kesehatan saat Ramadhan tahun ini. Insha Allah.

 

(Lutfia Uli Na’mah SST MKes, Dosen Prodi Diploma III Kebidanan Stikes Muhammadiyah Gombong)

Peran Sekolah Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0.

Di era sekarang sudah tidak terbantahkan lagi pelajaran dan pembelajaran sudah sangat mudah didapatkan yang penting ada kemauan. Media online internet seakan membuka batasan antara guru dan siswa yang melakukan proses pembelajaran di ruang kelas. Hadirnya teknologi yang memasuki era revolusi industry 4.0 membuat akses pembelajaran bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dengan demikian perguruan tinggi mempunyai tantangan tersendiri untuk menghadipi hal tersebut, karena banyaknya praktisi- praktisi yang professional ternyata lahir malah bukan dari pendidikan resmi. Masih belum lama ini terdengar kabar seorang mekanink motor yang berada di Sulawesi selatan yang mampu membuat pesawat terbang dan berhasil menguji coba untuk menerbangkannya. Hal ini ternyata menarik beberapa perhatian media untuk meliputnya dan yang lebih menghebohkan lagi ternyata sang pembuat pesawat terbang tersebut bukanlah seorang yang menyandang gelar serjana bahkan tamat SD-pun dia tidak selesai.

(more…)

Vaksin dan Obat Coronavirus 2019 – nCoV

Merebaknya wabah  coronavirus jenis 2019-nCoV di Wuhan China yang  sampai artikel ini ditulis sudah menginfeksi hampir 10.000 orang dan menimbulkan  korban jiwa lebih dari 213 orang mengundang ilmuwan diseluruh dunia bekerja keras untuk menemukan bagaimana cara mencegah atau mengobati  virus tersebut. Di media elektronik termasuk media sosial maupun cetak informasi mengenai cara penyebaran, gejala, asal muasal sampai bagaimana mencegah supaya tidak tertular sudah banyak kita dengar. Sementara penyebaran virus terus berlangsung dan korban terus berjatuhan dalam hitungan hari bahkan jam. Dalam artikel singkat ini penulis ingin menyampaikan informasi mengenai pengembangan vaksin coronavirus 2019-nCoV dan obat apa yang dipakai.

Penyakit infeksi yang banyak ditangani oleh dunia medis adalah infeksi karena bakteri dan virus. Infeksi karena bakteri bisa di sembuhkan dengan antibiotik dan bisa dicegah dengan vaksinasi namun semua infeksi bakteri sejauh ini berhasil di obati dengan antibiotik. Vaksinasi untuk infeksi bakteri tidak banyak ada beberapa yang populer misalnya vaksinasi typoid untuk penyakit tipus dan vaksinasi BCG. Jadi prioritas penangan infeksi bakteri adalah dengan pemberian antibiotik bukan dengan vaksinasi. Sementara infeksi karena virus bisa dikatakan sulit sekali di obati, artinya belum ada obat yang bisa membunuh virus seperti halnya antibiotik membunuh bakteri. Contoh sederhana saja virus demam berdarah atau dengue, sampai saat ini belum ada obat yang bisa membunuh virus  tersebut. Bahkan vaksin dengue juga belum ada. Jadi virus demam berdarah belum bisa divaksinasi dan belum bisa di obati, sehingga  kalau ada orang terkena dengue maka dilakukan upaya medis yang lain misalnya pemberian infus untuk menggantikan kehilangan cairan.

Sejauh ini ilmuwan sudah banyak membuat vaksin untuk mencegah infeksi virus misalnya vaksin influenza, vaksin cacar, vaksin gondong dan sebaginya. Hanya obat spesifik yang memuaskan belum ada. Untungnya orang yang pernah terinfeksi virus pada umunya akan membentuk kekebalan sehingga terhindar dari infeksi berikutnya misalnya orang yang terinfeksi virus cacar air (varicella) akan kebal. Beda dengan bakteri, virus akan menyerang dengan mengenal musim, sehingga kita sering mendengar serangan virus influenza, virus gondong, virus demam berdarah pada saat tertentu, untuk kemudian serangan tersebut hilang lalu timbul lagi di musim berikutnya. Sementara infeksi bakteri boleh dikatakan tidak mengenal musim tetapi lebih disebabkan karena perilaku tidak sehat dari individu misalnya tidak menjaga kebersihan akan terserang diare.

Coronavirus jenis MERS Dan SARS mempunyai angka kematian tinggi, MERS mempunyai angka kematian 35%  dan SARS 10%  bandingkan dengan virus influenza yang hanya 0,1 % angka kematiannya.  2019-nCoV yang juga jenis coronavirus tentunya bisa diprediksi mempunyai angka kematian tinggi (kalau dilihat dari angka diatas 2%).

Jadi selain manajemen pencegahan penyebaran coronavirus 2019-nCoV sekarang yang ditunggu adalah adanya vaksin corona virus.   Ilmuwan memperkirakan proses pembuatan vaksin coronavirus 2019-nCoV memerlukan waktu  dalam hitungan bulan jadi tidak bisa instan karena pembuatan vaksin akan melalui uji keamanan terhadap hewan terlebih dahulu  (uji preklinik) dan uji keamanan terhadap manusia (uji klinik) yang dilakukan dalam 3 tahap lalu  baru dibuat dan diproduksi masal. Vaksin sendiri dibuat dengan mengambil  dan mengisolasi  virus kemudian  dilemahkan sehingga virus tersebut tidak  dapat membelah diri  dengan sempurna atau bahkan sama sekali tidak mampu membelah diri. Kondisi ini bisa dikatakan virus sudah dilemahkan dan ketika di berikan ke orang sehat tidak cukup kuat untuk menimbulkan infeksi tapi justru menstimulasi individu untuk memproduksi zat kekebalan atau antibodi. Antibodi ini akan mencegah infeksi secara spesifik terhadap virus tersebut jadi satu spesies virus hanya spesifik di antisipasi satu vaksin.  Perkembangan terakhir saat ini ilmuwan di Melbourne di Australia berhasil mengisolasi dan “menumbuhkan” vaksin coronavirus 2019-nCoV, dan segera membagikan sampel vaksin tersebut ke WHO dan laboratorium diseluruh dunia agar proses pembuatan vaksin secara paralel dan simultan dilakukan seluruh dunia.  Jadi masih ada beberapa tahap lagi sebelum bisa digunakan termasuk uji preklinik dan uji klinik. Akan kita tunggu ilmuwan dari negara mana yang menang “perlombaan” membuat vaksin.

Lalu bagaimana dengan pembuatan obatnya? Pembuatan  obat jauh lebih panjang prosesnya dibanding pembuatan vaksin. Mengapa? Karena perbedaannya pembuatan obat melalui proses sintesis dulu sementara pembuatan vaksin tidak. Proses sintesis ini  ini yang bisa jadi memakan waktu lebih  lama dibanding “sintesis” vaksin. Sampai sekarang obat spesifik untuk coronavirus MERS dan SARS juga belum ada sementara wabah bisa jadi  sudah keburu tenggelam. Untuk sementara ini di China sendiri pasien coronavirus 2019-nCoV diobati dengan 2 macam obat untuk virus  HIV, yaitu lopinavir dan ritonavir. Dua obat tersebut merupakan obat antiretroviral golongan protease inhibitor yaitu obat yang bisa mencegah aktifitas enzim protease suatu enzim yang digunkan untuk pembelahan diri virus (HIV) dan diharapkan juga bisa untuk  coronavirus 2019-nCoV. Obat-obat ini  diberikan secara kombinasi dan dikabarkan  memiliki keuntungan klinis substansial.Obat ini pernah dipakai untuk mengobati SARS yang menjadi wabah tahun 2003 yang lalu.

 

Ditulis Oleh : Muh. Husnul Khuluq, M. Farm, Apt.

Afirmasi positif pada diri sendiri untuk mengatasi Depresi

Depresi merupakan periode yang dialami seseorang ditandai dengan perasaan sedih, perubahan pola tidur, nafsu makan, konsentrasi, psikomotor, konsentrasi, tidak memiliki semangat, kelelahan, putus asa dan ketidakberdayaan, serta keinginan bunuh diri (Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A, 2010)..

 

Hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) Tahun 2018 menunjukan bahwa prevalensi depresi pada penduduk Indonesia pada rentang usia ≥15 Tahun sebesar 6,1 % dari total penduduk Indonesia, dan Hanya 9% penderita depresi yang minum obat atau menjalani pengobatan medis.

 

Beberapa tanda dan gejala berikut ini dapat menjadi  acuan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami depresi atau tidak. Tanda dan gejala yang dapat dilihat antara lain tanda dan Gejala fisik seperti Sakit kepala, Insomnia, Merasa lemah secara umum, Mual, Sesak napas, Masalah pencernaan, Kelelahan dan kekurangan energi, Sering mimpi dan merasa seperti Anda tidak tidur sepanjang malam. Disertai adanya tanda dan gejala psikologis diantaranya rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan, Gejala emosional seperti Lekas marah, Merasa gugup, Suasana hati yang buruk dan kurang motivasi, Hilangnya ketertarikan pada suatu hal, Pikiran tentang pengalaman yang tidak menyenangkan secara berulang-ulang, Perasaan tidak berharga, rendah diri, dan merasa bersalah, Kesulitan berkonsentrasi, Merasa putus asa, Ingin mati atau bunuh diri.

 

Menurut kriteria diagnostik American Psychiatric Association, Anda dikatakan memiliki gangguan depresi bila Anda mengalami 5 atau lebih gejala depresi fisik atau psikologis selama lebih dari 30 hari secara berturut-turut, termasuk suasana hati yang buruk dan rasa kekurangan energi. Anda terus-menerus dibombardir oleh pikiran negatif dan kehidupan sehari-hari Anda terpengaruh secara signifikan.

 

Pikiran negatif  pada penderita depresi,  banyak menjadi penyebab maraknya angka bunuh diri pada penderita, ketika seorang penderita depresi sudah tidak mampu mencari pikiran positif ataupun hal positif dalam dirinya, yang berakibat hilangnya kemampuan untuk mengontrol diri maka yang difikirakan adalah keinginan untuk mengakhiri hidup. Berdasarkan kondisi tersebut dibutuhkan suatu bentuk terapi untuk mengatasi depresi melalui psikofarmaka dengan obat-obatan antidepresan dan psikoterapi salah satunya dengan afirmasi positif.

 

Afirmasi positif merupakan harapan, doa, cita-cita untuk membantu pembentukan gambaran di dalam daya pikir seseorang atau pernyataan penerimaan yang dilakukan diri sendiri (Abdurrahman, 2012). Menurut Chapman (2010), afirmasi sebagai gabungan teknik visual dan verbal menggambarkan keadaan yang disukai pikiran individu, di mana afirmasi yang kuat dapat menjadi sangat kuat.

Pikiran dan afirmasi yang positif akan meningkatkan energi dan membawa hal positif dalam kehidupan seseorang, Afirmasi positif efektif dapat merubah pikiran negatif individu (Harris & Epton, 2009).

Teknik afirmasi meliputi berfokus pada apa yang diinginkan, gunakan waktu sekarang, gunakan kata atau kalimat positif, gunakan kalimat yang spesifik. Sedangkan latihan afirmasi diawali dengan rileks dan menjernihkan pikiran, melakukan afirmasi sesuai dengan teknik dan bisa diperkuat dengan tulisan serta dilakukan sebelum tidur setiap hari. Hasil penelitian menurut Pinilih, Astuti, dan Amin (2014) menunjukkan bahwa teknik afirmasi positif yang efektif dapat merubah pikiran negatif seseorang dan terhindar dari adanya depresi.

Melakukan afirmasi positif yang dikombinasikan dengan spiritual dapat menghindari kita dari munculnya tanda dan gejala depresi, semoga bermanfaat.

Oleh Ike Mardiati Agustin M.Kep.Sp.Kep.J

(Dosen dan Ketua Departemen Keilmuan Keperawatan Jiwa STIKES Muhammadiyah Gombong)

.

 

ROKOK ELEKTRIK DAN KESEHATAN

Akhir akhir ini kita dikejutkan dengan aksi ramai komunitas pengguna rokok elektrik menunjukkan foto ronthgen paru paru mereka di media sosial. Mereka mengklaim paru paru mereka bersih dan sehat meskipun menggunakan rokok elektrik. Aksi ini dilakukan di tengah panasnya pro dan kontra keberadaan rokok elektrik di Indonesia dimana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan berbagai asosiasi profesi kesehatan merencanakan pelarangan rokok elektrik.

Rokok elektrik pertama kali ditemukan pada tahun 1963 oleh Helbert A Gilbert, akan tetapi penemuan tersebut tidak menghasilkan vape yang menjadi trend saat ini. Penemuan tersebut dikembangkan oleh Hon lik dan mematenkan rokok elektrik yang menjadi trend dan berkembang menjadi vape. Hon Lik dikenal sebagai sosok yang mengawali kehadiran rokok elektrik. Sejarah rokok elektrik atau vape pertama kali datang di Indonesia pada tahun 2010. Namun perkembangan rokok elektrik atau vape pada awal kedatangannya tersebut tidak langsung terkenal karena pada saat itu masih banyak masyarakat Indonesia belum mengetahui apa itu rokok elektrik atau vape, dan baru di sekitar 2013-2014 perkembangan vape di Indonesia mulai meningkat. Banyak masyarakat di Indonesia pada saat itu beramai-ramai membeli dan menggunakan rokok elektrik atau vape untuk mengganti pola merokok tembakau mereka.

Rokok elektrik semakin diminati oleh masyarakat Indonesia, menjamurnya para penjual rokok elektrik menjadi indikasi bahwa pemakai rokok elektrik semakin banyak. Pada saat ini rokok elektrik sudah sangat mudah didapatkan dan dijual bebas melalui toko online. Rokok elektrik pun berkembang menjadi berbagai macam bentuk desain dan varian rasa yang cukup banyak. Harga rokok elektrik terjangkau untuk masyarakat menengah ke atas, kisaran harganya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Selain di jual di took online rokok elektrik pun mudah ditemukan di toko-toko

Banyak yang meyakini rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok tembakau. Hasil penelitian hanya menyatakan rokok elektrik efektif untuk menggantikan kecanduan rokok tembakau. Namun belum ada penelitian yang menyatakan rokok elektrik aman bagi kesehatan manusia. Faktanya rokok elektrik yang dikabarkan aman untuk menggantikan rokok tembakau justru malah mengandung bahaya jangka panjang yang berdampak pada kesehatan.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, penggunaan rokok elektronik (e-cigarette/vape) memiliki dampak buruk terhadap kesehatan. Dampak rokok elektronik terhadap kesehatan berkaitan erat dengan pajanan terhadap kandungan bahan pada cairan (e-liquid) dan aerosol (uap) rokok elektronik. Rokok elektrik mengandung bahan Propilen Glikol, Nikotin, Perisadietil dan zat karsinogenik. Propilen glikol dapat mengiritasi paru paru, mata , gangguan saluran pernafasan seperti asma, sesak nafas dan obstruksi paru. Nikotin telah terbukti memiliki efek buruk pada proses reproduksi, berat badan janin dan perkembangan janin,efek kronis yang berhubungan antara lain kanker paru-paru, emfisema, hingga penyakit jantung.

BPOM telah melakukan studi terkait rokok elektrik atau vape pada 2015 dan 2017. Studi menghasilkan rekomendasi rokok elektrik menimbulkan dampak negatif lebih besar dibandingkan potensi manfaat bagi kesehatan masyarakat. Kandungan e-liquid dan uap vape dapat berakibat negatif untuk kesehatan.

Hasil penelitian Won Hee Lee, dkk yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology Volume 73, Issue 21, June 2019 menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti itu termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling banyak terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis. Kesimpulan dari penelitian ini paparan akut terhadap e-liquid beraroma atau penggunaan rokok elektrik memperparah disfungsi endotel yang seringkali mendahului penyakit kardiovaskuler.

Korban yang ditimbulkan akibat penggunaan rokok elektrik sementara dilaporkan baru di Amerika Serikat. Awal Bulan Oktober  2019 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merilis data kasus cedera paru-paru terkait penggunaan rokok elektronik atau vape di 48 negara bagian wilayah Amerika Serikat. Dari 889 pasien, sekitar 70 persen pasien adalah laki-laki dengan 80% pasien berusia di bawah 35 tahun, 16% berusia di bawah 18 tahun, dan 21% berusia 18 hingga 20 tahun. Hingga saat ini 15 negara bagian melaporkan 18 pasien telah meninggal dunia dari rentang usia 27 hingga 71 tahun. Seluruh pasien dalam data ini memiliki riwayat penggunaan produk rokok elektronik dengan 578 pasien di antaranya menggunakan produk vaping dalam tiga bulan sebelum timbul gejala.

Di Indonesia sendiri memang belum ada laporan tentang efek negative dari rokok elektrik, namun dampak rokok elektrik terhadap kesehatan dalam jangka panjang yang berbahaya serta kemungkinan bisa disalah gunakan dengan ditambahkan zat yang terlarang dan berbahaya harus menjadi perhatian serius pemerintah terutama Kemenkes dan BPOM untuk segera mengawasi dan menerbitkan aturan yang jelas.

Oleh Hendri Tamara Yuda, S.Kep.Ns, M.Kep. (Dosen Keperawatan STIKES Muhammadiyah Gombong & Pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana/ MDMC Pengurus Daerah Muhammadiyah Kebumen)

 

Translate »